
Pamulang, 16 Juli 2026 — Himpunan Qari dan Qari’ah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar kajian rutin “TAMMARA” (Ta’lim Malam Berkah) dengan nuansa yang sangat istimewa pada Kamis (16/7) malam. Berpusat di Lentera Al-Qur’an Elhasani, Pamulang, Tangerang Selatan, kegiatan yang diprakarsai oleh Departemen Pendidikan dan Kaderisasi (Kabinet Ashfiya) ini diselenggarakan sekaligus dalam rangka Tasyakuran atas Pengukuhan Gelar Guru Besar (Profesor) bagi Pembina UKM HIQMA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Hasani Ahmad Said, S.Th.I., M.A., C.DAI. Mengangkat tema “Bedah Buku Tafsir Maqashidi: Menjawab Problem Isu-Isu Keumatan dan Kebangsaan”, agenda ini menjadi momentum inspiratif yang membuktikan bahwa keterbatasan asal-usul bukanlah penghalang untuk mencapai puncak pencapaian akademik dan spiritual.
Acara dimulai pukul 18.00 WIB, diawali pembacaan Surah Yasin, tahlil, dan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk rasa syukur atas pencapaian gelar Guru Besar sang pemateri. Suasana yang khidmat sekaligus penuh dengan kebanggaan yang bisa mewarnai semua umat islam yang hadir dalam Majelis TAMMARA pada malam itu, dan merayakan perjalanan panjang seorang akademisi yang membuktikan spirit “dari desa menyandang guru besar di kota”. Perjalanan hidupnya disebut menjadi teladan bagi mahasiswa bahwa kegigihan, kesabaran, dan kedekatan dengan Al-Qur’an dapat mengantarkan seseorang dari pelosok daerah menuju panggung kehormatan akademik tertinggi di ibu kota.
Memasuki sesi inti, pemateri mengupas esensi diturunkannya Al-Qur’an melalui pendekatan Tafsir Maqasidi. Ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai petunjuk (hudan) bagi orang-orang bertakwa, tetapi juga panduan universal bagi seluruh umat manusia (hudan lin-naas) — sebuah korelasi erat dengan Maqasid Syariah, yakni tujuan-tujuan utama hukum Islam. Melalui pendekatan ini, pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dituntun untuk senantiasa berorientasi pada kemaslahatan nyata kehidupan manusia.
Dalam hal tersebut, pemateri membedah enam pilar utama Maqasid Syariah yang menurutnya wajib diimplementasikan mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari:
- Hifdzuddin (Menjaga Agama) — diwujudkan melalui konsistensi ibadah ritual, seperti mendirikan salat sebagai tiang spiritualitas.
- Hifdzulnasl (Menjaga Keturunan) — ditempuh melalui jalur pendidikan yang baik guna melahirkan generasi penerus yang berakhlak dan beradab.
- Hifdzulaql (Menjaga Akal) — dilakukan dengan membiasakan diri membaca, menuntut ilmu, dan mengasah pola pikir kritis.
- Hifdzunnafs (Menjaga Jiwa) — berorientasi pada kepedulian sosial untuk saling melindungi dan menghargai hak hidup sesama manusia.
- Hifdzulmal (Menjaga Harta) — diterapkan melalui pola hidup proporsional, tidak boros, serta bijak dalam mengelola sumber daya ekonomi.
- Hifdzulwaton (Menjaga Tanah Air) — menanamkan jiwa nasionalisme dan komitmen menjaga kedaulatan serta kedamaian bangsa.
Selain mengulas landasan keislaman, pemateri turut menyampaikan motivasi mengenai pengembangan kapasitas diri mahasiswa. Menanggapi realitas sosial dan pencarian pasangan hidup di masa depan, ia berpesan agar kader HIQMA fokus dalam menempa nilai diri. “Jika kamu ingin mendapatkan seseorang yang prestigious, maka kamu sendiri harus menjadi pribadi yang prestigious”, yaitu membentuk diri menjadi pribadi berkualitas dalam menuntut perjuangan yang tidak mudah, namun menjadi satu-satunya cara elegan untuk mengangkat martabat diri dan keluarga di masa depan.
Pada kajian TAMMARA kali ini yang ditutup dengan kesan yang sangat mendalam bagi seluruh peserta. Perpaduan antara tasyakuran gelar Guru Besar dan pemaparan Tafsir Maqasidi memberikan pelajaran bahwa integrasi ilmu dan ketakwaan adalah kunci utama meraih keberkahan hidup. HIQMA berharap mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dapat meneladani kisah inspiratif pemateri untuk terus berjuang menembus keterbatasan, dalam menjaga enam pilar Maqasid Syariah, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pijakan utama — yang selaras dengan visi organisasi: “Damai Bersama Al-Qur’an.”