Skip to main content

Tangerang Selatan, 18 September 2025 — Kegiatan Ta’lim Malam Berkah (TAMMARA) kembali dilaksanakan di kediaman Dr. Hasani Ahmad Said, S.Th.I., M.A., yang merupakan Pembina HIQMA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga merupakan Ketua Program Studi Ilmu Tasawwuf. Kajian kali ini mengangkat judul “Dari Madinah ke Nusantara: Spirit Kepemimpinan Rasulullah saw. dalam Menjaga Persatuan Bangsa yang mengulas keteladanan Rasulullah saw. dalam membangun masyarakat majemuk yang damai, adil, dan beradab. Kajian ini menegaskan bahwa nilai-nilai kepemimpinan Rasulullah saw. tetap relevan untuk menjawab tantangan kebangsaan Indonesia saat ini.

Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa Madinah merupakan model awal peradaban Islam yang berhasil menyatukan berbagai kelompok Masyarakat (Muhajirin, Anshar, serta komunitas non-Muslim) dalam satu ikatan persatuan. Kondisi sosial Madinah yang plural berpotensi menimbulkan konflik, namun mampu dikelola Rasulullah saw. melalui kepemimpinan yang visioner, inklusif, dan penuh hikmah.

Salah satu langkah strategis Rasulullah saw. adalah penyusunan Piagam Madinah, yang menjadi dasar kesepakatan bersama antarwarga. Piagam tersebut menegaskan prinsip persamaan hak, kewajiban kolektif dalam menjaga keamanan, serta penghormatan terhadap perbedaan keyakinan. Dokumen ini dipandang sebagai tonggak penting dalam membangun tatanan masyarakat yang berkeadilan dan harmonis.

Lebih lanjut, pemateri menekankan empat nilai utama kepemimpinan Rasulullah saw. yang menjadi kunci terjaganya persatuan, yakni keadilan, musyawarah (syura), toleransi terhadap perbedaan, dan persaudaraan (ukhuwah). Rasulullah saw. menegakkan keadilan tanpa memandang latar belakang suku, status sosial, maupun agama, serta membiasakan dialog dalam pengambilan keputusan. Selain itu, beliau memberikan ruang hidup yang aman bagi pemeluk agama lain dan memperkuat solidaritas sosial melalui pemersaudaraan antara Muhajirin dan Anshar.

Menurut Dr. Hasani, kondisi Indonesia sebagai bangsa yang majemuk memiliki tantangan yang serupa dengan masyarakat Madinah. Perbedaan suku, agama, budaya, dan pandangan politik berpotensi memicu perpecahan jika tidak dikelola dengan nilai-nilai luhur. Karena itu, spirit kepemimpinan Rasulullah saw. dinilai sejalan dengan prinsip kebangsaan Indonesia, seperti Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Melalui kajian ini, pemateri mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk meneladani kepemimpinan Rasulullah saw. dalam menjaga persatuan bangsa. Madinah, menurutnya, bukan sekadar catatan sejarah, melainkan model peradaban yang dapat diterapkan di Nusantara demi mewujudkan kehidupan berbangsa yang damai, adil, dan harmonis.

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses