Skip to main content

sumber: Gemini.AI

Sejak kecil, aku tumbuh dalam keluarga dengan aturan yang cukup jelas. Banyak hal harus melalui izin, banyak keputusan tidak bisa diambil begitu saja. Hal itu sering kali dipersepsikan oleh sebagian orang bahwa itu sesuatu yang mengekang. Banyak orang mengaitkannya dengan keterbatasan ruang, minimnya kebebasan, atau tekanan yang datang terlalu dini. Bahkan banyak orang mengatakan “anak strict parents itu ga bebas”. Namun bagiku, di situlah awal prosesku bertumbuh perlahan.

Aku tidak menyangkal bahwa hidup dengan aturan membutuhkan penyesuaian. Ada kalanya aku merasa tertinggal, merasa harus lebih sabar, atau menahan keinginan yang belum tentu bisa langsung diwujudkan. Dan aku sangat akrab dengan kalimat-kalimat seperti “jangan”, “harus”, dan “tidak boleh”. Bahkan ketika aku izin harus disertai penjelasan yang jelas seperti: “kemana?”, dan “dengan siapa?”.  Kata-kata itu hadir hampir di setiap fase hidup. Namun, seiring berjalannya waktu, aku paham dan menyadari bahwa ketat tidak selalu berarti tertutup. Di balik aturan-aturan itu, orang tuaku tetap memberiku ruang, meski dengan pendampingan dan izin yang harus dijaga.

Bahasa orang tua di rumah tidak pernah hadir tanpa maksud. Setiap larangan dan arahan disampaikan berulang, membentuk pola yang akhirnya menetap dalam cara berpikir. Awalnya, kata-kata itu terasa sebagai tembok. Tetapi seiring waktu, aku mulai melihatnya sebagai penanda batas bukan untuk menghentikan langkah, melainkan untuk mengarahkan.

Dari sini aku belajar memilih, bukan tanpa batas, tetapi dengan pertimbangan. Setiap langkah yang kuambil selalu disertai pertimbangan, percakapan, pengawasan, dan kepercayaan yang dibangun perlahan. Pola ini membuatku tidak hanya bergerak mengikuti keinginan sesaat, tetapi juga memahami alasan di balik setiap pilihan. Aku tidak tumbuh bebas sebebas-bebasnya, tetapi tumbuh dengan arah.

Sering kali orang mengira anak strict parents hanya pandai menuruti. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah proses belajar memahami batas. Dari sana, aku justru belajar bertanggung jawab atas keputusan yang kuambil. Kata “boleh” yang jarang diucapkan justru memiliki bobot yang besar. Ia tidak datang dengan mudah, tetapi ketika diberikan, ia mengajarkan arti kepercayaan dan kesiapan. Begitu pula kata “tidak”, yang perlahan mengajarkan kesabaran dan pengendalian diri.

Seiring bertambah nya usia, cara ku membaca dan memahami setiap perkataan orang tua kian berubah. Kalimat yang dulu ku kira menekan, kini ku pahami sebagai bentuk kehati-hatian. Nada yang dulu terdengar tegas, kini ku pahami sebagai bentuk kekhawatiran. Makna nya tidak berubah tetapi  cara memaknai nya yang berkembang.

Kini, aku paham dengan aku dibesarkan seperti ini, aku belajar bahwa aturan tidak memadamkan keinginanku untuk bertumbuh. Justru melalui batasan, dan pendampingan itulah aku belajar mengenal diriku sendiri, memahami nilai, dan menentukan jalan yang ingin kutempuh.

Pada akhirnya, proses bertumbuh tidak hanya ditentukan oleh seberapa longgar aturan diberlakukan, tetapi oleh bagaimana bahasa digunakan dalam keluarga. Dan Menjadi anak dari orang tua yang ketat bukan berarti kehilangan kesempatan untuk berkembang. Prosesnya mungkin lebih pelan, jalurnya mungkin berbeda, tetapi pertumbuhan tetap terjadi. Selama ada ruang untuk memilih, meski dengan izin dan pengawasan, seorang anak tetap bisa tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan sadar akan arah hidupnya.

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses