
Ilustrasi alam semesta. Sumber : jenniferwu.com
Manusia merupakan makhluk yang diciptakan Allah Swt. dengan keistimewaan berupa akal, hati nurani, dan hawa nafsu. Adanya ketiga unsur ini menjadikan manusia makhluk yang langka, karena malaikat hanya diberikan akal tanpa merasakan dorongan nafsu, para hewan diberikan hawa nafsu tanpa merasakan hakikat akal yang menembus batas naluriah, dan iblis diberikan akal dan hawa nafsu tanpa merasakan ketenangan hati nurani.
Selain keistimewaan internal di atas, Allah Swt. juga telah menganugerahi manusia secara eksternal berupa kesempatan untuk bertahan hidup di dalam makhluk ciptaan-Nya yang sangat luas bernama alam semesta. Ya, alam tempat kita hidup, bergantung sepenuhnya akan karunia-Nya, dan juga tempat yang akan ditinggalkan sesaat lagi (berapa pun lama sisa usia kita).
Manusia tahu bahwa aset-aset yang diberikan Tuhannya diperlukan dalam menghadapi dinamika alam, sehingga selama berabad-abad mereka memikirkan rahasia di baliknya.
Ada yang mengatakan bahwa alam semesta diciptakan memang untuk manusia. Benarkah demikian?
Alam Semesta adalah Dalil yang Konkret
Sobat Qurani, dalam beberapa menit ke depan mari kita renungi sejenak apa yang perlu kita pikirkan tentang alam raya ini!
Alam semesta dapat dijadikan dalil yang konkret bagi manusia dalam menemukan rahasia di balik penciptaannya. Ada beberapa dalil yang perlu dipelajari dari adanya jagat raya bagi manusia :
Pertama, alam semesta adalah dalil bahwa Tuhan itu ada.
Jelas, secara logika sesuatu yang ada di jagat raya ini dan memiliki sifat awal-akhir tentu ada yang mengadakannya. Pikirkan, tidak mungkin bumi bisa ada jika tidak ada causa prima (entitas Maha Awal) yang menciptakan bumi itu sendiri, kendati teori-teori materialistis mencoba memberi pemahaman yang terpisah.
Bahkan, Ibnu Arabi, salah satu teosof muslim terkemuka, menyatakan bahwa wujud alam semesta beserta jenis alam lainnya adalah manifestasi (tajalli) Allah Swt.
Kedua, alam semesta merupakan salah satu alasan manusia harus rendah hati. Manusia harus menyadari bahwa dirinya hanya seumpama butiran debu di jagat raya yang kehidupannya diawasi oleh Dzat Yang Maha Agung.
Manusia juga tidaklah layak mendeklarasikan dirinya sebagai makhluk yang paling berkuasa di atas bumi ini. Meski pun bisa bepergian dari timur ke barat, bukan berarti manusia bisa berlaku congkak, mengabaikan makhluk lain yang berbagi ruang hidup bersama mereka.Sebagaimana Allah berfirman dalam surah Al-Isra’ [17]:37,
وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا
“Janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”
[QS Al-Isra’ [17]: 37]Ketiga, alam semesta adalah dalil tujuan manusia diciptakan.
Di samping tujuan spiritual sebagai hamba, penciptaan manusia juga memiliki tujuan eksistensial yaitu agar ada makhluk yang diberi tugas untuk mengelola alam raya ini (meski pun kekuasaannya terbatas). Itulah salah satu makna kata khalifah yang terkandung dalam salah satu ayat populer di dalam Surah Al-Baqarah.
Tidaklah segala sesuatu diciptakan Allah Swt. sia-sia dan sekadar permainan. Bagi manusia yang dapat memahaminya, alam raya ini dapat dipergunakan untuk kemaslahatan dan kemajuan hidup mereka sendiri. Sehingga mereka selalu bersyukur atas anugerah tersebut.
Keempat, alam semesta adalah tempat manusia belajar.
Ibarat sebuah perpustakaan, alam semesta menyimpan banyak koleksi ilmu pengetahuan yang sarat rahasia. Sejarah telah mencatat bahwa selama berabad-abad banyak peradaban yang berusaha menemukan rahasia-rahasia tersebut. Bahkan ilmuwan muslim juga memberikan sumbangsih besar bagi fondasi ilmu pengetahuan modern lewat pengamatan empiris fenomena alam ini.
Tidak heran, dalam epistemologi Islam, alam semesta berkedudukan sebagai dalil aqli, dalil yang bisa dijelaskan dengan akal dan hati nurani serta bisa dibuktikan secara rasional dan empiris.
Perumpamaan Agar Manusia Berpikir
Allah Swt. berfirman:
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.”
(QS. Āli ‘Imrān [3]: 190)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa segala yang ada di alam raya adalah tanda kebesaran Allah. Tanda-tanda itu hanya bisa dikenali oleh orang-orang yang benar-benar menggunakan akalnya.
Bahkan banyak ayat lain yang menegaskan hal tersebut. Misalnya dalam Surah Ar-Ra’d ayat 3–4:
﴿وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ • وَفِي الْأَرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَىٰ بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَىٰ بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ﴾
“Dialah yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dia menjadikan padanya (semua) buah-buahan berpasang-pasangan dan menutupkan malam pada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.
Dan di bumi terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang. (Semua) disirami dengan air yang sama, tetapi Kami melebihkan tanaman yang satu atas yang lainnya dalam hal rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti.”
Demikian pula Surah An-Naml ayat 59–69 yang menggambarkan dengan gamblang kebesaran Allah, sekaligus mengingatkan manusia agar tidak mempersekutukan-Nya.
Permintaan Rabb Semesta Alam Kepada Manusia
Sebagai pemilik alam semesta, Allah tentunya telah memberikan pesan untuk para makhluk-Nya agar tidak merusak seisi alam. Hal ini dikarenakan Dia telah memelihara dan memperbaiki apa yang ada di langit dan bumi, sebagaimana pada firman-Nya :
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-A’raaf [7]: 56)
Sobat Qurani, apabila amaran di atas justru dilanggar, maka Allah akan memberikan peringatan sebagai akibat perbuatan tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surah Ar-Rum ayat 41
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rūm [30]: 60)
Peringatan dari-Nya dapat berupa musibah besar, gejala alam yang tidak lazim, atau bahkan yang tidak disadari seperti merebaknya kemaksiatan dan hilangnya keberkahan hidup.
Selain itu, perlu diimani pula bahwa apa pun yang terjadi di alam semesta merupakan atas seizin-Nya. Jadi kita sebagai hamba harus selalu mawas diri dan mengambil hikmah dari segala ketetapan-Nya.
Kesimpulan
Manusia sejatinya hanya sebatas makhluk yang dipinjamkan berbagai properti milik Allah Swt. di alam ini. Keberadaannya di alam raya ini bukan dengan tangan kosong, ada amanah yang harus diemban dengan tanggung jawab penuh terhadap keseimbangannya.
Oleh karena itu refleksi akan hakikat alam semesta masih belum usang untuk disyiarkan dengan tujuan untuk mengingat kembali tujuan hidup yang sesungguhnya dan mengapa alam seharusnya menjadi sumber pelajaran hakiki bagi kita.
Penulis :
Rafif Hamdillah
Referensi :
Al-Qur’an digital, tautan : https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/
Anton Soeharyo. 2024. Peringatan Terakhir Sangat Keras dari Allah. Artikel dari situs web agamaislam.com, tautan : https://www.agamaislam.com/peringatan-terakhir-sangat-keras-dari-allah/
Fuji Eka Permana. 2022. Al-Qur’an: Alam Semesta Diciptakan untuk Tujuan yang Benar. Artikel dari situs web Republika, tautan web : https://iqra.republika.co.id/berita/rfba7h313/alquran-alam-semesta-diciptakan-untuk-tujuan-yang-benar
Muhammad Faizin. 2023 9 Ayat Al-Qur’an Tentang Menjaga Lingkungan. Artikel dari situs web NU Online, tautan : https://islam.nu.or.id/ilmu-Al-Qur’an/9-ayat-al-qur-an-tentang-menjaga-lingkungan-x4Acv
Muhammad Ismail. Konsep Penciptaan Alam Semesta & Seisinya. Artikel dari situs web Ismail View, tautan : https://ismailview.com/konsep-penciptaan-alam-semesta-seisinya/
Nancy. 2023. Semua Terjadi Atas Izin Allah. Artikel dari situs web Perpusteknik, tautan : https://perpusteknik.com/semua-terjadi-atas-izin-allah/
Nasaruddin Umar. 2019. Hakikat Alam Semesta. Artikel dari situs web UIN Jakarta, tautan : https://www.uinjkt.ac.id/id/hakikat-alam-semesta/ Nayla Syarifa. 2024. Adanya Alam Semesta Bukti Nyata Keberadaan Allah SWT. Artikel dari situs web Almuhtada, tautan : https://almuhtada.org/2024/11/14/adanya-alam-semesta-bukti-nyata-keberadaan-allah-swt/