Skip to main content

Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Penulis: Brian Khrisna
Penerbit: Gradien Mediatama
Tahun Terbit: 2021
Tebal: ± 200 halaman
ISBN: 978-602-220-399-9

Ada buku-buku yang kita baca untuk hiburan, lalu ada buku-buku yang terasa seperti cermin yang memaksa kita menatap diri sendiri lebih lama. Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati termasuk buku yang saya rekomendasikan kala hidupmu merasa tidak lebih baik daripada orang lain. Dari halaman pertama, Brian Khrisna seolah sudah memegang tangan pembaca dan berkata, “Ini cerita tentang luka, tapi juga tentang kamu dan tentang siapa pun yang pernah merasa hidup sebagai beban.”

Ale, sebagai tokoh utama dalam novel ini. Ia bukan sosok yang disukai banyak orang. Tubuhnya besar, kulitnya gelap, dan hidupnya penuh komentar merendahkan dari orang-orang yang seharusnya mencintainya. Sejak kecil, Ale tumbuh dengan perasaan bahwa hidup ini bukan rumah, melainkan medan yang harus dijalani sendirian. Bertahun-tahun kemudian, dunia kerja yang keras menambah beban yang sudah lama tidak sanggup ia pikul. Semua itu memuncak pada satu keputusan kelam. Ia berniat untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Tapi hidup selalu memang punya kejutan, selalu punya cara yang aneh untuk menunda sesuatu. Ale membaca tulisan kecil di bungkus obatnya. Tertulis “dikonsumsi sesudah makan” dan mendadak teringat mie ayam langganannya. Keinginan sederhana itu, yang sangat manusiawi, justru menjadi alasan mengapa ia masih membuka mata esoknya. Dari titik rendah seperti itulah cerita ini bergerak.

Brian Khrisna, lewat novel ini, seperti ingin membuka sisi lain kota metropolitan yang selama ini terlihat glamor, elit, dan serba eksis. Di balik lampu-lampu terang dan gedung menjulang, ada dunia yang jauh lebih keras. Masyarakat kelas menengah ke bawah yang bertahan hidup dengan cara-cara yang tidak selalu halal. Dari pekerja klub malam, rentenir preman, hingga mereka yang hidup dari pekerjaan yang seringkali dipandang rendah.

Ada karakter-karakter yang, secara moral, tidak baik bahkan di cap bejat oleh sekitarnya dan mata yang memandang mereka selalu dengan tatapan hina merendahkan. Tapi dari mereka, Ale justru menerima perhatian kecil yang tidak pernah ia dapatkan di rumah sendiri. Sikap menolong tanpa alasan, empati tanpa syarat, keramahan yang tidak menghakimi. Novel ini seperti menampar cara kita menilai orang. Bahwa manusia baik tidak selalu tampil dengan rapi, dan manusia jahat tidak selalu datang dari tempat kotor. Dunia kenyataannya jauh lebih rumit, dan Brian dengan indah mengajak pembaca untuk melihatnya dari dekat.

Gaya tulisannya puitis tanpa memaksa, filosofis tanpa bertele-tele. Setiap adegan seakan bernafas penuh deskripsi sensorik, penuh keheningan yang membuat dada sesak. Ada kalimat-kalimat yang membuat pembaca berhenti sejenak untuk bernapas, merenung, lalu kembali membaca dengan perasaan yang berbeda. Beberapa bab terasa seperti ruang meditasi untuk siapa pun yang pernah bertanya pada dirinya sendiri, “Aku ini hidup, atau cuma numpang lewat waktu?”

Meski begitu, novel ini tidak mencoba menjadi dramatis dari awal sampai akhir. Pada bagian penutup, alurnya mungkin terasa lebih lembut, lebih sunyi, bahkan sedikit mendatar. Tapi mungkin memang itu tujuan Brian untuk menunjukkan bahwa hidup tidak selalu punya klimaks besar. Kadang, hidup hanya mengajak kita untuk melangkah pelan-pelan asal masih mau tetap berjalan meski terseok-seok.

Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, novel tentang betapa berharganya alasan-alasan kecil untuk hidup. Tentang bagaimana manusia saling menyelamatkan tanpa sadar. Dan tentang bagaimana satu porsi mie ayam- sebagai makanan pavorit Ale bisa menjadi titik balik untuk lebih menyelami kehidupan.

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses