
Sumber: https://mediaedukasi.id/
Di zaman ketika semuanya bisa diabadikan, banyak dari kita hidup di bawah sorotan kamera yang kita arahkan ke diri sendiri. Kajian difoto, sedekah direkam, kegiatan organisasi diposting, dan bahkan momen paling hening dalam ibadah pun kadang menggoda untuk dibagikan. Alasannya bisa macam-macam. Ingin menginspirasi, self branding, ingin memberi edukasi, atau sekadar ingin memastikan bahwa dunia tahu kita sedang mencoba menjadi baik. Fenomena seperti ini mungkin bukan hal baru, tetapi media sosial mempercepat dan memperluasnya, membuat kebaikan terasa harus selalu terlihat agar dianggap ada.
Lalu muncul pertanyaan sederhana yang ternyata rumit. Memangnya salahkah membagikan kebaikan? Kalau jawaban klisenya mungkin tergantung niat. Namun, soal niat sebetulnya adalah hal yang paling sulit diurai.
Rasulullah Saw. saja mengingatkan bahwa segala amal bergantung pada niatnya dan ayat Al-Qur’an pun mengungkapkan bahwa ada manusia yang berbuat hanya untuk dilihat, sebagaimana dalam
QS. Al-Ma’un [103]:6
ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ
“orang‑orang yang berbuat riya”
Ayat ini bukan berkenaan menyinggung salah satu aktivitas manusia hari ini, tetapi untuk menyadarkan bahwa kecenderungan mencari pengakuan itu memang ada dalam diri manusia, dan media sosial memperbesarnya.
Media sosial menciptakan standar baru yang tidak tertulis. Kebaikan yang tidak diunggah seolah-olah tidak pernah terjadi. Inilah yang sering menimbulkan tekanan halus. Semacam rasa takut dianggap tidak bergerak kalau tidak mengunggah dokumentasi. Takut terlihat tidak produktif kalau tidak memamerkan kesibukan. Padahal dalam sunyi, mungkin justru niat paling jernih bisa tumbuh tanpa distraksi. Namun pada saat yang sama, kita juga tahu bahwa kebaikan yang diposting bisa menggerakkan orang lain. Tidak sedikit yang mulai bersedekah karena melihat teman mereka melakukannya. Tidak sedikit yang belajar agama setelah melihat unggahan sederhana yang menyentuh hati. Di titik ini, berbagi kebaikan bisa menjadi bagian dari dakwah.
Tetapi perbedaan antara menginspirasi dan mencari validasi sangat tipis. Seringkali hanya diri sendiri yang tahu. Karena itu, sebelum memotret atau menekan tombol “upload”, barangkali ada baiknya kita bertanya pelan pada diri sendiri. Kalau tidak ada yang melihat, masihkah aku melakukan ini? Jika jawabannya masih “iya”, maka dunia digital tidak sedang memengaruhi niat kita. Tetapi jika ada sedikit keraguan, itu bukan alasan untuk menyalahkan diri, melainkan momen untuk menata ulang hati.
Di tengah budaya serba terlihat ini, kebaikan yang dilakukan diam-diam sering justru terasa lebih murni. Tidak ada pujian. Tidak ada like. Tidak ada validasi. Hanya kita, niat kita, dan Allah. Al-Qur’an pernah menyinggung bahwa menyembunyikan sedekah bisa lebih baik, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 271:
.. وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
“Jika kamu menyembunyikannya (sedekah) dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu.”
Pada akhirnya, di balik segala hiruk pikuk unggahan dakwah, dokumentasi kegiatan, dan konten yang berlomba-lomba dianggap bermanfaat, kita perlu mengingat bahwa kebaikan bukan kompetisi. Kita tidak sedang berlomba siapa yang paling aktif, paling dermawan, atau paling religius di mata publik. Kita hanya manusia biasa yang sama-sama sedang berusaha, meski pelan, meski belum konsisten, meski tidak punya dokumentasi apa-apa.
Media sosial bukanlah hal yang melulu dipandang negatif. Ia hanya memperjelas apa yang ada di dalam hati kita. Kita boleh memposting, boleh mendokumentasikan, boleh berkarya di ruang digital. Tetapi jangan sampai niat yang tulus tenggelam di antara kebutuhan untuk terlihat. Karena pada akhirnya, kebaikan paling indah adalah yang membuat hati tenang meski tak seorang pun mengetahuinya.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim. Mushaf Standar Indonesia. Departemen Agama RI, 2014.
HR. Bukhari & Muslim. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Risalah Islam. “Hukum Pamer Ibadah di Media Sosial.” RisalahIslam.com, 2015. https://www.risalahislam.com/2015/06/hukum-pamer-ibadah-di-media-sosial.html
Muslim.or.id. “Antara Ikhlas dan Riya’.” 2018. https://muslim.or.id/53541-antara-ikhlas-dan-riya.html
Minanews.net. “Fenomena Riya’ Digital: Bahaya Pamer Ibadah dan Gaya Hidup di Media Sosial.” 2022. https://minanews.net/fenomena-riya-digital-bahaya-pamer-ibadah-dan-gaya-hidup-di-media-sosial/
Turkle, Sherry. Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. Basic Books, 2011.