Skip to main content

Sumber: https://www.viva.co.id/

Seringkali, pelajaran hidup datang dari hal-hal kecil yang kita anggap sepele, bahkan terlupakan. Sebuah antrean panjang, ketinggalan bus, mendadak sakit padahal mau UAS, hujan yang tiba-tiba turun ketika kita tergesa-gesa ke acara penting. Semua itu, hal-hal yang kita rasa tidak nyaman, sebetulnya bila diperhatikan, bisa menjadi guru sabar yang paling setia.

Dalam hiruk-pikuk sehari-hari, kita terburu-buru mengejar target, ekspektasi, dan kesibukan. Mahasiswa, pekerja, atau siapa pun, kadang lupa bahwa sabar bukan hanya menahan marah atau kecewa, tapi juga mampu menerima keterlambatan, kesalahan, dan ketidaksempurnaan dengan hati yang lapang.

Dalam firman Allah Swt.  mengingatkan kita tentang kesabaran, yaitu :

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ


“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat; dan sesungguhnya itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah (2): 45)

Ayat ini mengajarkan bahwa sabar bukanlah hal mudah, tapi menjadi jalan bagi hati yang khusyuk untuk menemukan ketenangan.

Saya pernah merasakan sendiri, bagaimana kehilangan sebuah kesempatan yang awalnya terasa pahit justru memberi waktu untuk menata diri, mengoreksi niat, dan menghargai hal-hal kecil yang selama ini diabaikan. Saat itu saya belajar, bahwa sabar tidak selalu soal menunggu dengan pasif, tapi aktif menjaga hati tetap ringan, tetap bersyukur, dan tetap berharap pada pertolongan Allah.

Kesabaran terkadang muncul dari hal-hal yang terlupakan. Janji yang tertunda, mimpi yang sempat terhenti dan hal lainnya. Dan di situlah kita menemukan hikmah: bahwa setiap keterlambatan, kesalahan, dan ketidaksempurnaan adalah cara Allah mengajarkan kita untuk lebih manusiawi, lebih lembut, dan lebih mendekat pada-Nya.

Dalam dunia yang cepat, penuh target dan notifikasi, mungkin yang kita butuhkan bukan mengejar lebih cepat, tapi melatih diri untuk bersabar dengan apa yang terjadi, sekecil apa pun, karena di situlah hati tumbuh dan iman berkembang.

Daftar Pustaka

Hasanah, R. & Fadilah, A. (2022). “Kesabaran dan Kesehatan Mental Mahasiswa: Studi Empiris di Lingkungan Perguruan Tinggi.” Jurnal Psikologi Islam, 7(2), 45–58.

Nur, M. (2020). “Refleksi Spiritual Mahasiswa di Era Digital: Menjaga Kesabaran dan Konsentrasi Ibadah.” Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman, 15(1), 101–115

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses