Skip to main content

Sobat Qur’ani pernah gak sih merasa terganggu fokusnya ketika sedang ngerjain tugas atau pekerjaan, tapi tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari handphone? Tanpa sadar, tangan langsung meraih HP, buka pesan, scroll media sosial, dan … waktu pun habis begitu saja.

Alih-alih menyelesaikan pekerjaan, kita justru tenggelam dalam dunia layar. Mulai dari WhatsApp, Instagram, TikTok, hingga YouTube. Sekilas cuma lima menit, tapi tahu-tahu udah sejam lebih. Bukan cuma itu, sebagian dari kita mungkin menyadari bahwa hampir sepanjang hari, dari bangun tidur sampai tidur lagi, waktunya habis hanya di depan layar tanpa aktivitas yang benar-benar bermakna.

Padahal, waktu 24 jam yang kita punya bisa banget dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih produktif. Belajar, misalnya. Dan belajar itu tidak selalu soal pelajaran kuliah atau teori-teori akademik. Kita bisa belajar masak, mengembangkan hobi, mencoba skill baru, atau sekadar mendengarkan kajian dan podcast bermanfaat. Intinya, gadget bisa jadi alat bantu, bukan alat yang mengendalikan hidup kita.

Nah, kebiasaan kecanduan layar ini ternyata bukan cuma bikin malas, tapi juga bisa berdampak serius ke otak. Fenomena ini disebut dengan brain rot, atau dalam bahasa Indonesianya: pembusukan otak.

Apa Itu Brain Rot?

Menurut Oxford University Press, istilah brain rot dinobatkan sebagai Oxford Word of the Year 2023 karena meningkatnya penggunaan istilah ini di kalangan Gen Z dan Gen Alpha. Dalam konteks modern, brain rot merujuk pada penurunan kemampuan berpikir kritis dan fokus akibat terlalu sering mengonsumsi konten digital ringan yang sifatnya cepat, dangkal, dan berulang. (Oxford Languages, 2023)

Secara historis, istilah ini pertama kali muncul dalam buku Walden karya Henry David Thoreau pada 1854. Thoreau mengkritik kebiasaan masyarakat yang menyederhanakan ide-ide kompleks menjadi sesuatu yang dangkal dan instan—mirip dengan fenomena konten saat ini yang serba cepat tapi minim substansi.

Fenomena ini semakin nyata di era digital sekarang. Menurut Kompas.com (2024), brain rot berkaitan dengan kebiasaan scrolling tanpa henti di media sosial, yang menyebabkan otak kehilangan stimulasi bermakna, sulit fokus, dan rentan merasa cemas, hampa, bahkan depresi.

Nur Maghfirah, pakar media sosial dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, juga menyampaikan bahwa Gen Z rentan mengalami hal ini karena sejak lahir sudah akrab dengan teknologi digital. Mereka punya akses tanpa batas, tapi seringkali tanpa kontrol. (UMS, 2024)

Cara Mengatasi Brain Rot

Meski brain rot terdengar mengkhawatirkan, kabar baiknya bisa dicegah dan diatasi. Kuncinya ada pada kesadaran diri dan pengelolaan waktu. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan untuk melindungi otak dari pembusukan digital:

Pertama, batasi waktu penggunaan gadget, terutama untuk aktivitas yang tidak penting seperti scrolling media sosial. Banyak handphone sekarang punya fitur screen time yang bisa bantu kita memantau dan mengatur batas harian. Bukan berarti kita harus anti-media sosial, tapi belajar membatasi diri adalah bentuk kedewasaan digital.

Kedua, bangun kembali kebiasaan membaca, terutama bacaan yang panjang dan berbobot. Bisa mulai dari artikel, jurnal populer, atau buku yang sesuai minat. Membaca membantu otak untuk berpikir lebih dalam dan tidak hanya menerima informasi secara pasif seperti saat menonton video pendek.

Ketiga, coba latihan mindfulness. Kita bisa mulai dengan melatih fokus lewat aktivitas sederhana seperti makan tanpa sambil buka handphone, atau benar-benar hadir saat salat tanpa terburu-buru. Mindfulness membantu otak tetap terjaga dari distraksi dan belajar untuk ‘hadir’ dalam momen sekarang.

Keempat, lakukan dopamine detox. Ini bukan hal ekstrem, cukup sisihkan waktu satu atau dua jam sehari untuk menjauh dari layar. Gunakan waktu itu untuk aktivitas fisik, ngobrol langsung dengan teman, atau sekadar duduk diam sambil ngopi. Otak kita butuh istirahat dari rangsangan digital yang berlebihan.

Terakhir, kembangkan kreativitas. Main musik, menulis jurnal, menggambar, masak, atau belajar skill baru bisa jadi sarana mengalihkan perhatian dari konsumsi pasif ke aktivitas aktif. Aktivitas kreatif memberi ruang bagi otak untuk tumbuh, bukan membusuk.

Pandangan Islam terhadap Brain Rot

Dalam Islam, waktu itu bukan sekadar soal manajemen atau efisiensi. Waktu adalah amanah. Nikmat yang sering diremehkan, padahal akan ditanya di akhirat nanti. Rasulullah saw. bersabda:

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari, no. 6412)

Fenomena brain rot sebenarnya bukan cuma soal kecanduan gadget. Ia juga soal kelalaian. Kita tahu harusnya baca buku, ngerjain tugas, atau sekadar rehat dari layar. Tapi tetap aja, jari lebih cepat buka TikTok daripada buka buku. Otak kita jadi kebal terhadap hal-hal penting, tapi super responsif terhadap hiburan instan.

Padahal, Islam mendorong kita untuk berpikir mendalam. Tafakkur, ta’aqqul, tadabbur. Semua itu butuh fokus. Butuh ruang hening. Dan brain rot diam-diam mencuri itu semua. Ia tidak membatalkan salat, tapi bisa menghilangkan khusyuk. Ia tidak menghapus amal, tapi membuat kita hadir setengah hati. Baik di kelas, Ketika ibadah, maupun dalam relasi.

Jadi, menghindari brain rot bukan hanya soal menjaga kesehatan mental, tetapi juga menjaga amanah waktu yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

Daftar Referensi

Oxford Languages. (2023). Word of the Year: “Rizz” and the Rise of Digital Slang. Retrieved from https://languages.oup.com

Kompas.com. (2024). Fenomena Brain Rot: Saat Otak Terlalu Sibuk dengan Media Sosial. Retrieved from https://www.kompas.com/tren/read/2024/01/02/brain-rot

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. (2024). Fenomena Brain Rot di Kalangan Gen Z. Retrieved from https://ums.ac.id

Bahaya Brain Rot : Kenapa kita jadi makin malas dan bodoh? https://youtu.be/USV-zU80d_4?si=3IKzRpkonVvRhTdP

Lembke, A. (2021). Dopamine Nation: Finding Balance in the Age of Indulgence. Dutton.

Newport, C. (2016). Deep Work: Rules for Focused Success in a Distracted World. Grand Central Publishing.

Al-Bukhari. Shahih al-Bukhari, no. 6412.

Al-Tirmidzi. Sunan al-Tirmidzi, no. 2417

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses