Skip to main content

Benarkah Islam mengekang perempuan dan membatasi hak mereka untuk berpendidikan? 

Stigma ini telah lama tertanam dalam pola pikir masyarakat, bahkan tak jarang menjadi senjata bagi mereka yang berusaha menurunkan kualitas para perempuan Muslim. Namun, fakta sejarah dan temuan sains hadir menentang keras stigma tersebut. Tulisan ini akan membawa kamu menelusuri bukti-bukti sejarah dan pandangan sains yang akan mengubah persepsi kita tentang peran perempuan dalam Islam.

Islam secara jelas mengatakan bahwa menuntut ilmu baik ilmu agama maupun pengetahuan umum tak hanya diperuntukan bagi gender tertentu saja, melainkan wajib bagi semua umat manusia. Nabi Muhammad saw. bersabda:

 طَلبَُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُ لِ مُسْلم

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah)

Sejarah peradaban Islam menjadi saksi yang mencatat nama-nama besar perempuan ilmuwan, cendekiawan, dan pemimpin yang dalam masa hidupnya turut berkontribusi nyata bagi kemajuan umat manusia.

Aisyah RA, yang tak lain adalah istri Rasulullah saw. adalah perempuan yang dikenal sebagai perawi ribuan hadits. Kecerdasan Aisyah menjadikannya pusat rujukan banyak sahabat dalam meriwayatkan hadits. 

Fatimah Al-Fihri, ia adalah pendiri universitas Al- Qarawiyyin yang merupakan universitas tertua di dunia. Di tempat inilah berbagai macam ilmu termasuk teologi, hukum, tata bahasa, dan sains berkembang. Kontribusinya memainkan peran penting dalam perkembangan intelektual di dunia.

Selanjutnya Asy-Syifa bint Abdullah. Apa kamu merasa asing dengan nama tersebut? Ibnu Hajar menggambarkan sosok Asy-Syifa sebagai tokoh intelektual perempuan yang brilian di zaman Rasullah saw. Beliau adalah salah satu dari segelintir orang Islam di zaman tersebut yang memiliki kemampuan literasi yang luar biasa. Asy-Syifa mampu membaca dan sangat mahir menuangkan gagasan dalam tulisannya.

Tiga nama perempuan Muslim di atas adalah bagian fakta sejarah dari banyaknya tokoh perempuan Muslim lainnya yang membuktikan bahwa berpendidikan bagi perempuan  bukanlah sesuatu yang tabu dalam Islam. Peran mereka justru menjadi role model dari pendidikan pada masa itu.

Lalu bagaimana sains berbicara tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan?

Sains menguatkan sejarah bahwa perempuan memiliki peran dalam membangun peradaban yang cerdas dan berkualitas dan karenanya perempuan layak untuk memperoleh pendidikan.

Perempuan terdidik memiliki akses ke pengetahuan dan kesempatan, mereka mampu melahirkan generasi yang lebih cerdas, sehat, dan berdaya. Psikologi perkemabangan mengakui bahwa fondasi bagi perkembangan manusia di masa selanjutnya terletak pada periode prenatal (kandungan). Riset pun menunjukkan terdapat kemiripan otak ibu dan anak terutama dalam kemampuan linguistik anak. Perempuan yang memiliki ilmu akan memaksimalkan masa tersebut dengan sebaik mungkin untuk perkembangan anak. Hal ini tentu membuktikan pentingnya ibu yang cerdas untuk melahirkan anak yang cerdas di masa depan.

Demikian fakta sejarah dan sains yang sejalan dalam mendukung pendidikan untuk perempuan. Perempuan yang terdidik memiliki peran dalam masa depan peradaban Islam dan dunia. Dengan pendidikan, perempuan dapat menjadi agen perubahan yang membawa kemajuan dan kesejahteraan umat manusia. Mari kita pastikan bahwa setiap perempuan memiliki kesempatan untuk meraih pendidikan yang layak dan berkualitas.

by: Anisa Nur Asyah J

Daftar Pustaka

Lynn V. Fehlbaum, L. P. (2022). Mother-child similarity in brain morphology: A comparison of structural characteristics of the brain’s reading network . Developmental Cognitive Neuroscience, 1-10.

Mohamad Ardin Suwandi, F. M. (2024). Islamic prenatal education for pregnant mothers in ngadirojo village. Amorti: Jurnal Studi Islam Interdisipliner Vol. 3 No. 4, 147153.

Muktar, M. T. (2019). Existence of Pranatal Education in Islam. Britain International of Linguistics, Arts and Education (BIoLAE) Journal Vol. 1, No. 2, 210-223.

Plamina Dimanova, R. B. (2023). From mother to child: How intergenerational transfer is reflected in similarity of corticolimbic brain structure and mental health .

Developmental Cognitive Neuroscience , 1-10.

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses