
JAKARTA, 23 April 2026 — Dua organisasi mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, yakni Himpunan Qari dan Qariah Mahasiswa (HIQMA) dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam (HMPS BPI), bersinergi menggelar program kajian rutinan bertajuk “NGOPI di TAMMARA” pada Kamis, 23 April 2026, bertempat di Masjid Al-Jami’ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kegiatan yang dimulai pukul 18.00 WIB tersebut mengangkat tema besar “Re-branding Nilai Islam: Dari Penyuluh Muda untuk Mahasiswa Berdaya.”
Program “NGOPI di TAMMARA” merupakan agenda rutinan malam Jumat yang lahir dari kolaborasi strategis kedua organisasi. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang diskusi santai namun substansial, guna menumbuhkan rasa cinta mendalam terhadap Al-Qur’an dan Nabi Muhammad SAW sekaligus mengintegrasikan spiritualitas dengan pendekatan konseling sosial berbasis keilmuan Bimbingan Penyuluhan Islam.
Muhammad Haikal Hibrizi, Ketua HIQMA UIN Jakarta Tahun 2026, selaku pemantik pertama, menegaskan pentingnya pengemasan ulang nilai-nilai Islam agar relevan bagi generasi kampus. “Di era disrupsi informasi ini, Islam tidak boleh hadir dengan wajah yang kaku. Kita perlu re-branding, bukan mengubah substansi syariat, melainkan menyampaikannya secara kontekstual dan adaptif sehingga mampu menjawab problematika nyata mahasiswa dari isu kesehatan mental, pencarian identitas, hingga produktivitas akademik,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ilham Khalid Faqih, Ketua HMPS BPI UIN Jakarta Tahun 2026, menyoroti pentingnya peran mahasiswa sebagai “Penyuluh Muda” di lingkungan kampus. “Tanggung jawab ini bukan milik satu jurusan saja. Setiap mahasiswa UIN Jakarta harus mampu hadir sebagai konselor sebaya menjadi tempat bersandar dan pemberi solusi islami bagi teman yang tengah mengalami krisis moral maupun spiritual. Keteladanan nyata dalam kehidupan akademik adalah bentuk penyuluhan visual yang paling efektif,” kata Ilham.
Kajian ini merumuskan dua dimensi utama “Mahasiswa Berdaya” sebagai luaran dari gerakan re-branding tersebut: berdaya secara spiritual tercermin dari kedekatan dengan Al-Qur’an dan konsistensi ibadah serta berdaya secara intelektual dan sosial, yakni kemampuan berpikir kritis, adaptif terhadap teknologi, dan aktif berkontribusi dalam penyelesaian masalah kemasyarakatan.
Menutup jalannya diskusi, kedua pemantik menekankan bahwa Islam adalah agama yang dinamis dan selalu relevan di setiap zaman dan tempat “sholihun likulli zaman wal makan.” Melalui kolaborasi ini, HIQMA dan HMPS BPI berharap mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dapat bergerak bersama sebagai agen perubahan yang membawa wajah Islam moderat, inklusif, dan memberdayakan bagi peradaban masa depan.
