
JAKARTA, 30 April 2026 – Himpunan Qari dan Qari’ah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sukses menyelenggarakan kajian rutin “TAMMARA” (Ta’lim Malam Berkah) ke-5 pada Kamis (30/4) malam. Berpusat di Masjid Al-Jami’ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kegiatan ini mengangkat topik yang dekat dengan dinamika anak muda, yaitu “Capek Tanpa Arah: Ketika Lelah Bukan Sekadar Fisik”. Agenda yang diprakarsai oleh Departemen Pendidikan dan Kaderisasi (Kabinet Ashfiya) ini menghadirkan Ketua HIQMA Masa Bakti 2023 sekaligus Dewan Pertimbangan Organisasi HIQMA Tahun 2024–2026, Abang Nailul Izzata Gufron, S.Ag., C.LQ, sebagai pemateri utama guna membedah fenomena kelelahan mental dari kacamata psikologis, sosiologis, dan agamis.
- Refleksi Spiritual Malam Jumat sebagai Pembuka Kajian
Acara keagamaan yang ditujukan bagi seluruh keluarga besar HIQMA dan sivitas akademika UIN Jakarta ini resmi dimulai pada pukul 18.00 WIB. Guna mengawali majelis dengan keberkahan, rangkaian kegiatan dibuka secara khidmat melalui pembacaan Surah Yasin, Tahlil, serta pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW secara berjamaah. Agenda spiritual pradiskusi ini diposisikan sebagai langkah awal untuk menenangkan batin dan menyucikan niat para kader, sebelum bersama-sama menguliti problematika non-fisik yang kerap melanda generasi muda di tengah tuntutan akademik dan organisasi.
- Realitas Krisis Lelah Mental di Kalangan Dewasa Muda
Memasuki pemaparan materi, forum menyoroti keluhan kultural “Aku capek, tapi capeknya bukan karena fisik” yang kian menjamur. Secara biologis tubuh seseorang mungkin terdeteksi sehat, namun energi mereka terkuras habis, motivasi runtuh, dan arah hidup terasa kabur. Berdasarkan data Alodokter tahun 2023, sebanyak 67% responden mengaku mengalami kelelahan mental meskipun tanpa melakukan aktivitas fisik berat. Selaras dengan hal itu, data Kemenkes RI tahun 2023 menunjukkan 1 dari 3 dewasa muda di Indonesia mengalami gejala languishing atau burnout tingkat ringan hingga sedang, yang menurut studi Adam Grant (NYT, 2021) mampu menurunkan produktivitas hingga 30%. Kondisi ini ditegaskan sebagai hasil akumulasi dari berbagai dimensi yang saling bertaut.
- Tinjauan Psikologis terhadap Burnout, Languishing, dan Krisis Usia 20-an
Dari kacamata psikologi, kondisi capek tanpa arah dijabarkan melalui tiga konsep utama, dimulai dari burnout (kelelahan emosional) yang dicetuskan Christina Maslach pada 1970-an. Kondisi ini mencakup habisnya sumber daya afektif yang membuat individu mudah tersinggung, munculnya sikap dingin atau sinis (depersonalisasi), serta runtuhnya efikasi diri akibat merasa tidak kompeten.
Kedua adalah languishing, sebuah kondisi mental “hampa dan stagnan” menurut Corey Keyes yang secara diam-diam mengikis motivasi dan makna hidup meskipun individu tetap beraktivitas rutin. Ketiga adalah quarter-life crisis di rentang usia 20–30 tahun, di mana penelitian Oliver Robinson membuktikan 50% responden mengalami krisis identitas dan arah karier. Kebiasaan membandingkan diri dengan pencapaian teman sebaya memicu impostor syndrome yang mempercepat kelelahan emosional tersebut.
- Sudut Pandang Sosiologis dan Dampak Destruktif Media Sosial
Secara sosiologis, struktur lingkungan dan interaksi digital berkontribusi besar dalam memicu kelelahan eksistensial. Mengacu pada konsep anomie dari sosiolog Émile Durkheim, masyarakat modern kerap kehilangan norma-norma sosial pembimbing, sehingga manusia mengalami “kehausan tak terbatas” tanpa batasan yang jelas tentang kata “cukup”.
Kondisi ini diperparah oleh teori perbandingan sosial (social comparison) Leon Festinger (1954), di mana media Sosial seperti Instagram dan TikTok secara konstan menyajikan highlight reel kehidupan orang lain. Baik upward comparison (membandingkan ke atas) yang memicu kecemasan, maupun downward comparison (membandingkan ke bawah) yang memicu kepuasan semu, keduanya berisiko merusak harga diri. Riset Primack (2017) bahkan mengonfirmasi bahwa penggunaan media sosial lebih dari 2 jam per hari berkorelasi kuat dengan peningkatan isolasi sosial dan kelelahan emosional.
- Solusi Qurani dan Kembalinya Kemurnian Jiwa (Sakinah)
Islam menawarkan jawaban komprehensif atas kelelahan eksistensial ini dengan mengembalikannya pada tiga pilar spiritual: Niat, Berkah, dan Sakinah. Berlandaskan hadis Rasulullah SAW bahwa “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya,” ditegaskan bahwa hilangnya keikhlasan dan orientasi yang melulu duniawi adalah akar utama lelahnya jiwa. Aktivitas tanpa mengharap rida Allah akan terasa hampa karena kehilangan unsur berkah. Sebaliknya, ketenangan batin hakiki (sakinah) hanya bisa diraih melalui kedekatan spiritual dan keimanan kepada Allah SWT, yang membuat hati tetap kokoh meski di tengah badai ujian dunia.
- Pendekatan Praktis dan Manajemen Beban Tim
Berdasarkan analisis multidisiplin, kajian ini membagikan strategi penanggulangan praktis untuk mengatasi kelelahan di tingkat organisasi atau tim:
- Audit Beban: Mencatat seluruh tanggung jawab secara rapi dan mendelegasikan tugas demi mengurangi beban mental bersama.
- Jadwal Partisipatif: Melibatkan anggota dalam menyusun agenda dan tenggat waktu guna melahirkan kepastian kerja.
- Normalisasi: Membuka ruang diskusi terbuka tanpa penghakiman untuk membahas kebingungan awal yang dihadapi.
- Evaluasi Multi-dimensi: Menilai dan mengapresiasi proses serta kontribusi, bukan hanya terpaku pada hasil akhir semata.
- Sinyal Perbaikan Diri demi Kehidupan yang Seimbang
Sebagai refleksi penutup, kajian TAMMARA menegaskan bahwa kondisi capek tanpa arah bukanlah keluhan emosional biasa, melainkan sebuah alarm alami agar manusia segera mengevaluasi arah hidup, hubungan sosial, dan koneksi spiritualnya. Secara psikologis, mahasiswa harus menyelaraskan ulang ekspektasi diri. Secara sosiologis, batasi perbandingan digital yang tidak sehat. Dan secara agamis, kembalikan kemurnian niat dan keikhlasan. Mengutip untaian bijak Nelson Mandela bahwa “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia,” kader HIQMA diharapkan mampu mengelola kesehatan mentalnya secara tangguh agar dapat terus melangkah membawa syiar keselamatan, selaras dengan semangat utama organisasi: “Damai Bersama Al-Qur’an.”
