
JAKARTA, 7 Mei 2026 – Himpunan Qari dan Qari’ah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menyelenggarakan kajian rutin “TAMMARA” (Ta’lim Malam Berkah) pada Kamis (7/5) malam. Berpusat di Masjid Al-Jami’ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kegiatan religius ini mengusung tema krusial: “Al-Qur’an dan Pendidikan: Urgensi Mahasiswa bagi Masa Depan Dunia”. Kajian yang diinisiasi oleh Departemen Pendidikan dan Kaderisasi di bawah Kabinet Ashfiya ini menghadirkan alumni sekaligus Dewan Pertimbangan Organisasi HIQMA yang juga merupakan Duta Pendidikan Provinsi Banten Tahun 2020, Abang Abdul Hakim, S.Pd., sebagai pemateri utama guna membedah peran mahasiswa dalam memadukan spiritualitas Qurani dan tantangan pendidikan modern.
Spiritual sebagai Fondasi Bergerak Mahasiswa
Acara yang dihadiri oleh pengurus, kader HIQMA, serta sivitas akademika UIN Jakarta ini dibuka sejak pukul 18.00 WIB. Guna menyelaraskan hati sebelum memasuki sesi diskusi, kegiatan diawali dengan pembacaan Surah Yasin, Tahlil, serta pembacaan Maulid Nabi Muhammad saw secara berjamaah. Agenda spiritual ini sengaja ditempatkan di awal sebagai jangkar utama penguat keimanan sekaligus pengingat bahwa segala basis pergerakan intelektual mahasiswa di kampus harus senantiasa bermuara pada nilai-nilai ketauhidan dan keberkahan.
Menyongsong Indonesia Emas 2045 Lewat Tiga Dimensi Keunggulan
Memasuki materi inti, pembahasan dibuka dengan membedah arah bangsa dalam menyongsong abad kedua kemerdekaan melalui visi Indonesia Emas 2045. Untuk mencetak generasi unggul yang mampu bersaing di kancah global, pembangunan sumber daya manusia (SDM) tidak boleh timpang. Sektor pendidikan berkualitas harus menjadi tulang punggung yang kokoh dengan bertumpu pada Tiga Dimensi Keunggulan yang saling terintegrasi, yakni keunggulan intelektualitas, keunggulan spiritualitas, dan keunggulan moralitas. Ketiga pilar ini mutlak diperlukan agar kemajuan sains dan teknologi di masa depan tetap dikendalikan oleh manusia yang berintegritas tinggi.
Al-Qur’an sebagai Pilar Karakter Global di Era Disrupsi
Dalam pemaparannya, Abang Abdul Hakim menegaskan bahwa Al-Qur’an bukanlah sekadar teks kitab suci keagamaan yang statis, melainkan sebuah panduan hidup universal (way of life). Nilai-nilai di dalamnya terbukti melintasi perkembangan zaman dan sekat budaya. Di tengah tantangan era disrupsi informasi, nilai fundamental Qurani seperti kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan kesabaran harus diangkat menjadi benteng moralitas utama. Karakter-karakter inilah yang akan menjaga mahasiswa dari degradasi moral sekaligus menjadi kompas dalam mengambil tindakan di tengah masyarakat.
Urgensi Literasi Terbuka dan Pendidikan Sepanjang Hayat
Guna mewujudkan kedalaman berpikir, forum ini menyoroti pentingnya penanaman budaya literasi yang inklusif dan terbuka di kalangan mahasiswa. Menghadapi dinamika global yang berubah cepat, mahasiswa tidak boleh terjebak dalam zona nyaman akademik semata. Konsep pendidikan sepanjang hayat (long-life learning) harus diinternalisasi sebagai sebuah kebutuhan primer. Mahasiswa didorong untuk terus mengasah kapasitas kognitif, meluaskan cakrawala pengetahuan, serta berani membuka diri terhadap berbagai disiplin ilmu baru agar tetap relevan dalam menjawab problem sosial yang kian kompleks.
Profil Generasi Qurani Pembawa Rahmatan Lil ‘Alamin
Kajian TAMMARA ke-6 ini merumuskan secara jelas mengenai profil generasi masa depan yang idealnya dilahirkan dari rahim pendidikan berbasis Al-Qur’an. Generasi ini dicirikan oleh empat pilar utama: menjadi individu cerdas yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir, memiliki akar keimanan yang kokoh sebagai fondasi spiritual, menampilkan akhlak mulia dalam interaksi sosial, serta memiliki komitmen tanggung jawab sosial yang tinggi untuk memperbaiki kondisi di sekitarnya. Karakteristik komprehensif inilah yang menjadi modal utama dalam membangun tatanan dunia yang beradab dan berkeadilan.
Mahasiswa sebagai Agen Perubahan dan Harapan Dunia
Sebagai konklusi yang reflektif, kajian ini menyerukan agar mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bangkit mengambil peran strategis sebagai cahaya peradaban bagi dunia. Mengutip pesan mendalam dari Nelson Mandela bahwa “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia,” pemateri mengingatkan bahwa masa depan tatanan global sesungguhnya berada di tangan gerakan mahasiswa. Oleh karena itu, seluruh kader HIQMA diharapkan mampu menginternalisasikan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan praktis, bertindak nyata sebagai agen perubahan, dan membawa misi rahmatan lil ‘alamin demi mewujudkan visi mulia organisasi: “Damai Bersama Al-Qur’an.”
