
Foto: D. Zawawi Imron. Sumber: Liputan6.com
Nama D. Zawawi Imron mungkin tak asing di telinga pecinta puisi. Nama lengkapnya adalah Djamaluddin Zawawi Imron, namun ia lebih dikenal dengan inisial “D.” di depan namanya. Ia adalah penyair asal Madura yang dijuluki “si Celurit Emas”, dan hingga kini masih tinggal di kampung halamannya, Batang-Batang Laok, Kabupaten Sumenep. Meski jauh dari hiruk pikuk kota besar, puisi-puisinya mampu menembus dunia, mengangkat kisah laut, ibu, dan tanah kelahiran dengan bahasa yang dalam dan bersahaja.
Zawawi Imron lahir di ujung timur Pulau Madura, di tengah suasana kampung yang sarat dengan nilai agama dan tradisi. Karena keterbatasan administratif di masa kecilnya, tanggal lahirnya tercatat berbeda-beda di beberapa sumber. Sebagian besar menyebutkan 01 Januari 1945, sebagaimana yang tertera di Wikipedia. Namun menurut Ensiklopedia Sastra Indonesia, pada kartu identitasnya tertulis 19 September 1946.
Ia tumbuh dan menetap di tanah kelahirannya hingga kini. Kehidupan masyarakat pesisir, alam Madura yang keras namun indah, serta nilai-nilai Islam yang meresap dalam keseharian, menjadi inspirasi utama dalam puisi-puisinya. Tak heran jika ia kemudian dikenal sebagai “Penyair Laut”. Sebuah julukan yang merujuk pada karakter puisinya yang puitis, reflektif, dan kaya akan kearifan lokal. Bagi Zawawi, desa bukanlah batas kreativitas melainkan ruang kontemplasi yang justru membuatnya lebih jujur dalam menulis.
Zawawi mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR), lalu melanjutkan belajar sebagai seorang santri di Pesantren Lambicabbi, Gapura, Sumenep selama sekitar delapan belas bulan. Setelahnya, ia menjalani kehidupan yang penuh kerja keras. Menjadi pengangkut kantong daun siwalan, kuli angkut barang, hingga mengumpulkan batu untuk bahan bangunan. Di tengah kesibukan itu, ia tetap mengajar mengaji dan dikenal sebagai seorang Mubalig. Namanya cukup disegani di lingkungan organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Aisyiyah, Pelajar Islam Indonesia (PII), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Persatuan Ukhuwah Islamiyah (PUI). Ia bahkan pernah memberikan kuliah umum di kampus-kampus seperti Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya dan Universitas Jember. Hal yang cukup mengagumkan mengingat latar belakang pendidikannya hanya sampai sekolah dasar.
Ia mulai menulis puisi sejak 1960 dan merasa sangat berterima kasih kepada Pak Sutama, camat di kampung halamannya yang pertama kali memberinya kesempatan untuk mengetik puisi-puisinya. Pak Sutama jugalah yang berjasa mengirimkan puisi-puisi itu ke Mingguan Bhirawa di Surabaya, yang diasuh oleh Suripan Sadi Hutomo. Salah satu puisinya pertama kali disiarkan pada tahun 1974 menjadi pijakan awal kiprah Zawawi di dunia sastra nasional.
Zawawi menikah pada usia 21 tahun, sementara istrinya saat itu berusia 13 tahun. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai tiga anak, salah satunya meninggal dunia. Putra sulungnya, Zaki, juga menunjukkan minat yang kuat terhadap dunia sastra, mengikuti jejak ayahnya dalam mencintai puisi.
Nama Zawawi Imron mulai dikenal luas setelah memenangi Sayembara Cipta Puisi Nasional yang diadakan oleh Perkumpulan Sahabat Pena Indonesia pada tahun 1979. Dua tahun kemudian, ia juga menjadi pemenang lomba penulisan buku bacaan SD yang diselenggarakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Salah satu puisinya yang mencerminkan corak dakwah adalah Zikir, yang termuat dalam buku Madura, Akulah Darahmu. Berikut penggalan puisi yang berjudul “Alif” tersebut:
Alif
Alif, alif, alif!
Alifmu pedang di tanganku,
susuk di dagingku,
kompas di hatiku.
Aku mengenal huruf,
bukan karena guru bahasa
tetapi karena kiai
yang mengajarku menyebut nama Tuhan.
Dalam puisi tersebut, huruf hijaiyah “alif” dijadikan simbol spiritual yang menggambarkan pencarian Tuhan dan makna hidup. Zawawi menempatkan “alif” sebagai pusat dari zikir batin sebagai pedang, kompas, bahkan sumur yang memancar jadi samudra. Melalui puisi ini, ia menunjukkan bahwa dakwah bisa hadir lewat simbolisme, keheningan, dan perenungan, bukan hanya ceramah atau nasihat langsung.
Puisinya Bulan Tertusuk Ilalang juga terkenal karena diangkat menjadi judul film oleh sutradara Garin Nugroho pada tahun 1999. Puisinya yang lain banyak dibaca, dinyanyikan, dan dikutip ulang—baik dalam forum budaya maupun pengajian.
Zawawi termasuk bagian dari generasi penyair era 1970-an yang turut membentuk wajah baru puisi Indonesia, bersama nama-nama seperti Sutardji Calzoum Bachri dan Sapardi Djoko Damono. Karya mereka ditandai dengan corak yang lebih personal, reflektif, dan musikal. Pada masa itu, ketika tekanan sosial-politik Orde Baru membuat kritik tidak bisa disampaikan secara langsung, para penyair seperti Zawawi menyelipkan suara protes dan kegelisahan melalui simbol dan metafora.
Sepanjang kariernya, Zawawi telah menulis lebih dari lima puluh buku, meliputi kumpulan puisi, cerita rakyat Madura, buku anak-anak, hingga esai-esai religius. Beberapa judul karyanya yang menonjol antara lain Celurit Emas, Nenek Moyangku, Air Mata, Madura, Akulah Lautmu, Sate Rohani dari Madura, Soto Sufi dari Madura, hingga Mengekalkan Puisi pada Kopi. Puisi-puisinya mengalir dari kesadaran budaya, ketulusan batin, dan pengalaman hidup yang nyata.
Meski dikenal luas sebagai penyair, Zawawi sejatinya berasal dari keluarga pesantren. “Saya ini turki (turunan kiai) yang keseleo menjadi penyair” ujarnya sambil tertawa, dalam sebuah wawancara bersama Republiknews. Ia pun mengakui, ada sebagian orang yang sempat meragukan pilihannya menekuni puisi, seolah puisi dan dakwah tak bisa berjalan berdampingan.
Dengan seluruh kontribusinya, Zawawi Imron membuktikan bahwa menjadi penyair besar tak harus berasal dari kota besar. Dari desa kecil di Madura, ia menulis dengan jujur, membela kemanusiaan dengan kata, dan menjaga budaya lewat puisi. Puisinya bukan hanya dibaca, tapi diresapi dan seringkali menjadi tempat pulang bagi siapa pun yang sedang mencari makna hidup dalam kesederhanaan.
Daftar Pustaka
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (n.d.). D. Zawawi Imron. Ensiklopedia Sastra Indonesia. http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/D_Zawawi_Imron
Borobudur Writers & Cultural Festival. (n.d.). D. Zawawi Imron. https://festival.borobudurwriters.id/bio/d-zawawi-imron/
Sastrawacana. (2020, April). Biografi D. Zawawi Imron Lengkap dengan Karya-karyanya. https://www.sastrawacana.id/2020/04/biografi-d-zawawi-imron-lengkap-dengan.html
Perpustakaan UIN Antasari. (2023). BAB III: Perkembangan Sastra Indonesia Era 1970-an. https://idr.uin-antasari.ac.id/28663/6/BAB%203.pdf
Republiknews. D. Zawawi Imron, Turunan Kiai yang Keseleo Jadi Penyair. https://republiknews.co.id/d-zawawi-imron-turunan-kiai-yang-keseleo-jadi-penyair/
https://www.sepenuhnya.com/2025/02/puisi-zikir-karya-d-zawawi-imron.html
