
Ilustrasi: Menepi sejenak dari riuh dunia, menyatu dengan alam yang sunyi. Sumber: foto pribadi
Liburan semester selalu jadi momen yang paling dinanti oleh mahasiswa. Setelah berbulan-bulan bergulat dengan tugas kuliah, tuntutan dosen yang sering kali tak realistis, aktivitas organisasi yang menyita pikiran, dan berbagai tekanan hidup lainnya, siapa pun pasti butuh waktu untuk sekadar menarik napas.
Semester lalu, saya dan seorang teman nekat pergi ke salah satu curug di Bogor. Tanpa banyak persiapan, hanya bermodalkan uang pas-pasan dan informasi rute yang kami cari lewat TikTok, kami menempuh perjalanan 3–4 jam naik motor. Belum pernah ke sana sebelumnya, belum tahu medannya, dan bahkan belum yakin bakal sesuai atau tidak dengan ekspektasi yang dibayangkan. Tapi lagi-lagi yang kami cari bukan kemewahan melainkan ketenangan untuk melepas penat.
Sesampainya di sana, rasa lelah langsung hilang begitu mendengar suara air terjun yang deras dan syahdu. Lebih dari ekspektasi yang saya bayangkan. Belum lagi suasana yang masih sepi, tanpa riuh pengunjung, membuat kami merasa seolah alam sedang menyambut kami berdua. Airnya dingin, jernih, dan menyegarkan. Segala penat, amarah, dan stres yang sebelumnya tertahan di kepala seolah luruh bersama derasnya arus curug.
Liburan ke alam seperti ini memang berbeda. Bukan sekadar menghibur, tapi juga menyembuhkan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa berinteraksi langsung dengan alam bisa menurunkan tingkat stres dan kelelahan mental. Suara air, hijau pepohonan, serta udara segar terbukti mampu menstimulasi ketenangan dan rasa bahagia dalam diri seseorang. Lestari & Arimbi (2020) mencatat bahwa mahasiswa yang sering melakukan aktivitas di alam menunjukkan tingkat stres yang lebih rendah dibanding mereka yang tidak. Penelitian lain dari Nuraini (2019) juga mengungkapkan bahwa kunjungan ke tempat-tempat alami dapat memperbaiki suasana hati dan meningkatkan fokus belajar setelahnya.
Bahkan dalam pendekatan psikologi modern, dikenal istilah ecotherapy – sebuah metode terapi yang melibatkan alam sebagai sarana penyembuhan stres, kecemasan, dan kelelahan psikis. Wulandari & Nugraha (2018) menjelaskan bahwa terapi ini mulai banyak digunakan untuk remaja dan mahasiswa karena sifatnya yang alami, murah, dan minim efek samping.
Jadi, kalau kamu mulai merasa kewalahan dengan rutinitas, cobalah menyepi ke alam. Tak harus ke tempat yang mahal atau jauh. Cukup cari yang asri, tenang, dan membebaskan. Karena terkadang, yang kita butuhkan bukan belanja impulsif atau tempat yang ramai, tapi ruang sunyi yang bisa merengkuh kita kembali pada diri sendiri.
Daftar Pustaka:
- Lestari, F. D., & Arimbi, D. A. (2020). Hubungan antara Interaksi dengan Alam dan Tingkat Stres Mahasiswa di Masa Pandemi. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Konseling, 6(1), 45–52.
- Nuraini, R. (2019). Efektivitas Kunjungan Wisata Alam dalam Menurunkan Tingkat Kecemasan pada Mahasiswa. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 7(2), 33–40.
- Wulandari, S., & Nugraha, E. (2018). Penerapan Terapi Alam (Ecotherapy) Sebagai Upaya Mengurangi Stres Akademik Mahasiswa. Jurnal Bimbingan Konseling Islam, 9(1), 21–28.
- Ramadhani, A., & Cahyadi, R. (2021). Manfaat Paparan Alam terhadap Kesehatan Mental: Tinjauan Literatur. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 16(2), 123–131.
