Skip to main content

CINERE, 21 Mei 2026 – Himpunan Qari dan Qari’ah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sukses menggelar Kajian Umum “TAMMARA” (Ta’lim Malam Berkah) Spesial pada Kamis (21/5) malam. Bertempat di kediaman alumni senior sekaligus Ketua HIQMA Masa Bakti 2017, Abang Dzulkarnain Lana Saputra, S.S.I., di kawasan Cinere, kegiatan ini mengangkat tema reflektif: “Bukan Sekadar Qurban, Tapi Tentang Apa yang Kamu Korbankan”. Kajian yang dikemas dalam nuansa silaturahmi kehangatan keluarga besar HIQMA ini menghadirkan Pimpinan BAZNAS Republik Indonesia, H. Syarifuddin, S.Ag., M.E., sebagai pemateri utama untuk mengontekstualisasikan nilai ibadah qurban ke dalam dimensi perjuangan personal mahasiswa. 

Silaturahmi Senioritas dan Spiritualitas Pembuka

Acara yang diinisiasi oleh Departemen Pendidikan dan Kaderisasi (Kabinet Ashfiya) ini dimulai sejak pukul 18.00 WIB. Sebelum memasuki sesi materi inti, suasana religius diperkuat melalui rangkaian pembacaan Surah Yasin, Tahlil, serta pembacaan Maulid Nabi yang diikuti dengan khidmat oleh seluruh kader yang hadir. Pertemuan tatap muka di kediaman alumni senior ini sengaja dirancang untuk merekatkan simpul regenerasi, sekaligus menjadi ruang diskusi dinamis guna menyadarkan mahasiswa bahwa kehidupan adalah ruang ujian yang akan senantiasa menguji manusia melalui formula kesenangan maupun kesulitan. 

Urgensi Self-Awareness dan Filosofi Kematian

Dalam pemaparannya, H. Syarifuddin menekankan bahwa esensi pengorbanan sejati tidak akan pernah terwujud tanpa adanya pengenalan diri (self-awareness) yang mendalam. Mahasiswa dituntut untuk jujur melakukan pemetaan internal melalui peta potensi diri, guna mengenali kelebihan dan kekurangan secara saksama. 

Lebih lanjut, forum diajak merenungkan tiga pertanyaan eksistensial dasar: siapa diri kita, apa yang ingin dicapai, dan ke mana arah pergerakan hidup. Kajian ini juga membedah mengapa Al-Qur’an sering kali menyebutkan terminologi kematian sebelum kehidupan. Hal tersebut dimaknai sebagai pengingat bahwa manusia bermula dari ketiadaan, dan kematian merupakan batas mutlak yang harus disadari sebagai stimulus untuk memperbanyak muhasabah (evaluasi diri) di sela-sela kesibukan dunia. 

Menjaga Kesehatan Mental dan Kognitif di Arus Globalisasi

Menjawab tantangan modernitas, kajian ini menyoroti pentingnya menjaga kesucian pikiran dan efisiensi kerja otak sebagai bagian dari pengorbanan modern mahasiswa. Di tengah derasnya arus globalisasi, lahirlah analogi “Komunitas HP Lama”. Analogi ini menggambarkan pentingnya memilih lingkaran pertemanan yang sehat guna membatasi masuknya pasokan informasi berlebih (information overload), yang kerap mengakibatkan otak mengalami overstimulus dan memicu burnout. Selain itu, mahasiswa didorong untuk memiliki kemandirian pola pikir dalam memecahkan masalah (problem solving) menggunakan ketajaman analisis sendiri, bukan secara instan langsung bersandar pada bantuan teknologi. 

Investasi Soft Skill, Fokus, dan Fondasi Kepercayaan

Aspek profesionalitas tidak luput dari pembahasan. Fakta di dunia kerja menunjukkan bahwa kepemilikan soft skill yang matang jauh lebih berdampak besar bagi masa depan ketimbang sekadar latar belakang sekolah yang bagus atau modal materi yang melimpah. Di sini, berlaku prinsip kedalaman ilmu; lebih baik berfokus dan konsisten memperdalam satu bidang secara menyeluruh (tahu satu hal tapi banyak), daripada mengetahui banyak hal secara superfisial di permukaan saja. 

Dalam konteks organisasi dan dunia profesional, pembangunan kepercayaan (trust-building) sejak awal dinilai sebagai fondasi mutlak yang melahirkan sinergi. Oleh karena itu, mahasiswa harus memiliki kerelaan besar untuk mengorbankan waktu, kenyamanan, serta ego demi konsistensi belajar sepanjang hayat. 

Kecerdasan Multidimensi dan Amalan Istiqamah Ahli Surga

Karakter generasi Qurani yang tangguh idealnya dibentuk oleh perpaduan tiga komponen kecerdasan: Adversity Quotient (AQ) sebagai daya tahan menghadapi tantangan, kecerdasan pikiran dan emosi untuk mengelola gejolak diri secara bijaksana, serta kekuatan iman (faith) sebagai jangkar spiritual utama. Ketiga kecerdasan internal ini wajib didukung oleh faktor eksternal berupa lingkungan pertemanan yang positif (positive circle). 

Sebagai konklusi materi, dipaparkan kisah hikmah seorang sahabat Nabi yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW karena kebiasaan hatinya yang istiqamah. Meski tidak memiliki amalan ritual yang mencolok atau spesial, sahabat tersebut konsisten mengamalkan ketulusan hati untuk selalu memaafkan seluruh kesalahan orang lain kepada dirinya sesaat sebelum tidur setiap malam. Amalan ringan namun konsisten inilah yang memiliki bobot spiritualitas sangat tinggi di hadapan Allah SWT. 

Manifestasi Pengorbanan Menuju Visi Bersama

Kajian TAMMARA Spesial ini memberikan refleksi akhir yang mendalam bagi seluruh kader HIQMA. Qurban sejati tidak boleh hanya berhenti pada ritual tahunan penyembelihan hewan ternak, melainkan harus dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya menyembelih ego, kemalasan, dan kesombongan diri. Pada akhirnya, seluruh ikhtiar dalam pengembangan soft skill, penguatan mental, kesehatan kognitif, serta pemurnian amalan hati harus diorientasikan secara kolektif demi mendukung visi besar bersama, yaitu: “Meng-Al-Qur’ankan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.”

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses