
gambar: Drama malaysia Bidaah VIU 2025
Sumber: https://ecentral.my/wp-content/uploads/2025/02/479927381_1183942073734044_7234525006684848671_n.jpg
Belakangan ini kalimat “pejamkan mata dan bayangkan muka Walid” mendadak viral dan menjadi bahan lelucon warganet di media sosial khususnya di tiktok lantaran sebuah drama series Malaysia bertajuk Bidaah yang saat ini sedang trending bahkan menjadi langganan FYP yang selalu dinanti-nanti oleh warganet.
Kalimat “pejamkan mata dan bayangkan muka Walid” tersebut dicetuskan oleh salah satu karakter di film Bidaah, Walid Muhammad (Faizzal Hussein) dalam salah satu adegan kepada para perempuan di sebuah goa yang dipercaya sebagai tempat perkumpulan para malaikat. Sontak kalimat tersebut mengundang tawa dari netizen dan kerap dijadikan bahan meme dan parodi oleh warganet. Tapi di balik lelucon itu, terselip ironi: agama dipakai sebagai topeng syahwat.
Serial drama Bidaah (VIU, 2025) tayang perdana pada 6 Maret 2025 lalu di platform streaming VIU yang disutradarai oleh Ellie Suriaty dan diproduseri oleh Erma Fatimah itu terdiri dari 15 episode, masing-masing berdurasi sekitar 30 menit, dan tayang setiap Kamis, Jumat, dan Sabtu.
Serial ini mengisahkan sekte agama sesat dan kontraversial bernama Jihad Ummah yang di pimpin oleh seorang Walid Muhammad Mahdi Ilman yang mengaku sebagai Imam Mahdi di akhir zaman. Bertopeng jubah agama dan pesonanya sebagai sosok kharismatik yang mampu menarik perhatian tulus para pengikutnya, Walid menyebarkan doktrin sesat dan menyimpang dari ajaran islam yang semestinya.
Dengan tema yang kuat, Bidaah membawa penonton pada perjalanan yang menggugah pikiran tentang pencarian kebenaran dalam konteks yang penuh dengan kontroversi.
Konflik dalam drama ini bermula saat seorang wanita bernama Baiduri (Riena Diana) dipaksa ibunya agar bergabung dengan sekte tersebut karena ibunya merupakan salah satu dari penikmat kajian walid tersebut. Melihat ada beberapa perubahan sikap dan sifat ibunya semenjak mengikuti kajian tersebut, seperti mulai berani membangkang atas izin dari suaminya (ayah baiduri) akhirnya dengan terpaksa Baiduri menerima ajakan ibunya untuk bergabung dan melihat ada beberapa kejanggalan dalam praktik keagamaan tersebut.
Disaat yang bersamaan, Hambali (Fattah Amin) sebagai putra salah satu pemimpin di Jihad Ummah baru saja menyelesaikan pendidikannya di Yaman juga menyadari hal yang serupa. Keduanya bersepakat untuk bekerjasama mengungkap kebenaran dari praktik sesat di dalam sekte tersebut.
Tokoh Baiduri maupun Hambali sebagai salah satu pemeran uama bisa kita ambil sebagai pelajaran. Mereka bukan hanya korban, tapi juga simbol perlawanan. Meski awalnya terpaksa ikut ibunya bergabung ke sekte, lalu mulai menyadari kejanggalan demi kejanggalan. Mereka akhirnya berani bersuara untuk mengingatkan ibunya, dan menyelamatkan pengikut didalamnya.
Potret Kesesatan Dalam Film Bidaah
1. Dari Ngalap Barokah Nyasar ke Aqidah
Salah satu praktik aneh yang diangkat dalam film adalah “minum air Walid” yang disebut membawa barokah. Padahal, dalam tradisi Islam, ngalap berkah itu ada ilmunya, loh Sobat!
Dalam dunia pesantren, kata “barokah” bukan sekadar istilah. Ia adalah ruh yang menghidupkan semangat santri dalam berkhidmah kepada guru, kiai, hingga agama dan bangsa. Salah satu bentuk paling populer dari ngalap barokah adalah meminum sisa air minum kiai setelah pengajian, yang diyakini membawa keberkahan ilmu dan ketenangan batin.
Barokah dapat diraih melalui berbagai media, baik benda maupun sosok orang. Misalnya, barokah tongkat yang pernah dipakai Rasul, habaib, auliya, sampai kiai. Bukan bendanya yang menjadi sebab barokah tersebut, akan tetapi dari pancaran cahaya spiritualnya dan hubungan kedekatannya dengan Allah Swt . Yang menjadi sebab barokah itu ada.
Banyak sekali praktik ngalap barokah di zaman Rasulullah saw. oleh para sahabat, terutama ngalap terhadap sosok Rasulullah saw. dan sesuatu yang berkaitan dengannya. Ada beberapa riwayat yang menceritakan adanya beberapa sahabat Rasulullah saw. Ngalap barokah dengan air bekas wudlu Rasulullah saw., bahkan sampai air ludahnya beliau juga. Sebagaimana tercatat dalam kitab Subulul Huda war Rosyad fi Siroti Khoiril Ibad pada juz 10, halaman 38, sebagai berikut:
وَرَوَى الْبُخَارِيُّ عَنِ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: فَوَاللَّهِ مَا تَنَخَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُخَامَةً إِلَّا وَقَعَتْ فِي كَفِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ، فَدَلَكَ بِهَا وَجْهَهُ وَجِلْدَهُ، وَإِذَا تَوَضَّأَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وُضُوئِهِ
Bahwasannya berdasarkan rekaman riwayat yang disampaikan Imam al-Bukhari bersumber pada Miswar bin Markhamah, bahwasannya ia bercerita: “Demi Allah, Rasulullah saw tidak pernah berdahak (meludah) melainkan jatuh di telapak tangan seseorang dari kalangan sahabat Nabi saw. (karena berebut air ludah Rasulullah saw.) kemudian meratakannya ke wajah dan kulit mereka dan apabila Rasulullah saw. berwudlu mereka saling berebut sisa air wudlu Rasululah saw.”
Fenomena demikian bukan hal yang baru apalagi hal tabu, tapi merupakan tradisi yang terus berlalu dari waktu ke waktu, bahkan dari generasi ke generasi. Kejadian tersebut tercatat oleh Imam al-Bukhari pada haditsnya nomor 82, juz 1 halaman 27, sebagai berikut:
َدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ قَالَ: حَدَّثَنِي اللَّيْثُ، قَالَ: حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ، أُتِيتُ بِقَدَحِ لَبَنٍ، فَشَرِبْتُ حَتَّى إِنِّي لَأَرَى الرِّيَّ يَخْرُجُ فِي أَظْفَارِي، ثُمَّ أَعْطَيْتُ فَضْلِي عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ» قَالُوا: فَمَا أَوَّلْتَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «العِلْمَ»
Artinya: Bahwasannya Sahabat Ibnu Umar r.a. bercerita, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Ketika saya tidur, saya diberi gelas cangkir berisikan air susu. Kemudian saya meminumnya sehingga saya melihat aliran yang mengalir di sela-sela jemari saya, kemudian saya berikan kelebihan air susu tersebut kepada Umar bin Khattab,” seketika Sahabat bertanya, “Lantas, apa takwilan Anda terhadap mimpi Anda tersebut wahai Rasulullah saw.” “Takwilan saya adalah ilmu,” jawab Rasulullah saw.
Karena itu, bagi para pencari barokah atau berkah, jika tidak disertai dengan pemahaman ilmu syariat yang lurus khawatir nantinya akan terjerumus dalam budaya jahiliyah seperti syirik. Jika tidak ada syariat yang memagari, pencarian barokah bisa menjerumuskan pada pengkultusan manusia dan inilah yang disorot tajam dalam film Bidaah.
2. Menggunakan Ayat Al-Qur’an Untuk Membungkus Syahwat
Dalam film Bidaah, kita melihat Walid digambarkan sebagai sosok yang memanipulasi agama untuk memenuhi nafsunya. Ia memiliki empat istri, tapi memperlakukan mereka seperti barang koleksi. Ia menceraikan sesuka hati, lalu dengan mudah mencari istri baru, sering kali melalui pernikahan batin. Dimana praktik yang ia dalihkan sebagai bagian dari syariat, padahal sejatinya adalah syahwatnya sendiri.
Islam dengan tegas melarang perlakuan seperti itu. Menikah bukan permainan. Syariat membolehkan talak tapi bukan untuk tujuan main-main. Rasulullah saw. bersabda:
أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهِ الطَّلَاقُ
“Halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talak.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)
Perceraian memang halal, tapi bukan sesuatu yang ringan. Maka, ketika seorang lelaki mengucapkannya berkali-kali semudah membalik telapak tangan, seolah-olah pernikahan hanyalah kontrak jangka pendek, ada benarnya kita harus bertanya: benarkah ia mengerti makna “ijab kabul”?
Islam tidak pernah membenarkan bentuk pelecehan apa pun, terlebih lagi jika itu dilakukan oleh seorang guru agama yang konon katanya “mursyid”. Dalam Al-Qur’an Allah Swt. dengan tegas melarang pendekatan terhadap zina.
َلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا
Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk” (QS. Al-Isra [32] :17).
Penipuan yang dilakukan Walid lebih dari sekadar kebohongan biasa. Ia memanipulasi iman. dengan menjadikan rasa percaya murid-muridnya sebagai jembatan menuju kejahatan. Dan yang lebih menyakitkan, semua itu dibungkus dengan kalimat-kalimat religius, membuat yang minim akan pengetahuan agama tak sadar bahwa mereka sedang dibodohi.
3. Kemunafikan dalam Jubah Kesalehan
Walid adalah sosok yang terlihat beriman. Tapi perkataannya dusta, janjinya palsu, dan kepercayaan murid-muridnya ia khianati dengan rakus. Munafik seperti ini bukan hanya merusak dirinya, tapi juga merusak wajah agama. Dalam Al-Qur’an, orang seperti ini disebut sebagai penghuni neraka paling bawah:
اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) di tingkat paling bawah dari neraka. Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa 4:[145])
Rasulullah saw. Juga menyebutkan tiga ciri orang munafik dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhori.
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga, jika berbicara ia dusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanat ia khianat.”
4. Cinta Ilmu vs Cinta Buta
Salah satu kritik tajam dari film Bidaah yang sudah kita lihat adalah bagaimana kerinduan umat terhadap figur panutan bisa dimanfaatkan oleh orang yang salah. Murid-murid Walid tunduk bukan karena paham, tapi karena takut dan taksub. Taksub bukan kagum, tapi fanatik buta.
Membela dan mengikuti seseorang tanpa berpikir, tanpa bertanya, bahkan ketika kebenaran di depan mata sekalipun.Apa pun yang keluar dari mulut sang mursyid dianggap kebenaran mutlak meskipun bertentangan dengan syariat.
Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam dalam Kitab As-Sahwah al-Islamiyyah Bayna al-Ikhtilaf al-Masyru ‘wa at-Tafarruq al-Mazmu mencatat tiga tanda fanatisme atau fanatik buta kepada kelompok atau jamaah:
- Satu orang hanya menyebutkan kelebihan dan kekurangan kelompoknya, sedangkan kelompok lain hanya disebutkan kekurangan dan kekurangannya.
- memuliakan tokoh-tokoh kelompoknya, sekalipun ada salah dan khilaf pada sosok yang berusaha mengingkari, dan memandang rendah tokoh lain meski ada ketinggian ilmu dan amal.
- Bergembira dan menyebarkan kesalahan orang lain. Pada saat yang sama, menutup mata terhadap kesalahan tokoh-tokoh dari kelompok itu sendiri, dan mencari berbagai alasan untuk membela kesalahan.
Islam tak pernah mengajarkan untuk tunduk pada manusia secara mutlak. Bahkan sahabat Rasulullah saw. sendiri pun tetap kritis dan terbuka. Seperti dalam suatu kisah, Syekh Jalalluddin as-Suyuthi dalam kitab tafsirnya, ad-Durrul Mantsûr fî Tafsîril Ma’tsûr, bahwa khalifah Umar bin Khattab R.A pernah dikoreksi oleh seorang perempuan di depan umum terkait mahar dan Umar R.A tak marah. Ia tak merasa direndahkan dan justru menjawab, “Perempuan itu benar, dan Umar salah.”
Hal ini menunjukkan bahwa kebenaran tak terikat oleh jabatan atau sorban. Hal ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak bergantung pada jabatan atau sorban.
Selama seorang pemimpin berjalan di atas kebenaran, maka ia layak ditaati. Namun jika menyimpang dari syariat, maka kita berkewajiban untuk menegur, bukan membenarkan apalagi membiarkannya. Seperti dalam sebuah hadits dari Ubadah bin Shamit R.A, ia berkata:
دَعَاَنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا: أَنْ بَايَعْنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَفِي عُسْرِنَا وَيُسْرِنَا، وَفِي أَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلَّا أَنْ نَرَى كُفْرًا بَوَاحًا عِندَنَا مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pernah memanggil kami, kemudian membaiat kami. Ketika membaiat kami beliau mengucapkan poin-poin baiat yaitu: taat dan patuh kepada pemimpin, baik dalam perkara yang kami sukai ataupun perkara yang tidak kami sukai, baik dalam keadaan sulit maupun keadaan lapang, dan tidak melepaskan ketaatan dari orang yang berhak ditaati (pemimpin). Kecuali ketika kalian melihat kekufuran yang jelas, yang kalian punya buktinya di hadapan Allah” (HR. Bukhari no. 7056, Muslim no. 1709).
Dalam film Bidaah, murid-murid Walid tak lagi melihat apakah yang mereka ikuti itu benar atau tidak. Ironisnya mereka tidak melawan. Sikap patuh dan tunduk mereka juga karena takut. Bahkan terlanjur menuhankan guru. Padahal, agama bukan tentang menelan mentah-mentah, tapi memahami dengan hati (iman) dan akal.
Dalam syariat kita tidak ada yang lebih tinggi dari kebenaran yang dilandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah. Dan tidak ada juga yang lebih hina dari agama yang dijual untuk menutupi kebusukan.
Daftar Pustaka
Di dunia pesantren, kata “barokah” bukan sekadar istilah. https://www.duniasantri.co/serpihan-barokah-di-sisa-air-minum/
Imam Muhammad bin Yusuf Ash-Shalihi Asy-Syami (w 942 H) : Kitab Subulul Huda war-Rosyad fi Siroti Khoiril ‘Ibad
Imam al-Bukhari, hadis no. 82, Juz 1, halaman 27
Halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talak: https://almanhaj.or.id/842-hadits-sesuatu-yang-halal-paling-dibenci-allah-adalah-talak.html
Dan janganlah kamu mendekati zina: https://quran.nu.or.id/al-isra%27/32
orang munafik itu (ditempatkan) di tingkat paling bawah dari neraka: https://quran.nu.or.id/an-nisa%27/145
tiga ciri orang munafik: https://hadispedia.id/hadis-no-32-shahih-al-bukhari-tanda-tanda-orang-munafik/
mencatat tiga tanda fanatisme atau fanatik buta kepada kelompok atau jamaah: https://hidayatullah.com/kajian/oase-iman/2021/08/04/213015/bahaya-fanatik-buta-menurut-syeikh-yusuf-al-qaradhawi.html
khalifah Umar bin Khattab r.a pernah dikoreksi oleh seorang Perempuan: https://islam.nu.or.id/hikmah/pidato-sayyidina-umar-diprotes-seorang-perempuan-MIB49
https://fawaidkangaswad.id/2018/11/09/dalil-dalil-wajibnya-taat-kepada-ulil-amri/