
JAKARTA, 1 Oktober 2026 – Himpunan Qari dan Qari’ah Mahasiswa (HIQMA) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar kajian rutin “TAMMARA” (Ta’lim Malam Berkah) pada kamis malam di Masjid Al-jami’ah UIN Jakarta. Mengangkat tema “Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Akademik dan Organisasi”, kegiatan ini menyoroti isu yang kerap menjadi dilema para aktivis kampus.
Kegiatan ini yang diselenggarakan langsung oleh Departemen Pendidikan dan Kaderisasi Kabinet Ashfiya ini menghadirkan Dewan Pertimbangan Organisasi HIQMA Tahun 2024–2026, Abang Nailul Izzata Gufron, S.Ag., sebagai pemateri utama. Ia diminta mengurai benang kusut tekanan psikologis yang dialami mahasiswa.
Kajian dimulai sejak pukul 18.00 WIB melalui rangkaian majelis khidmat, yakni pembacaan Surah Yasin, tahlil, dan Maulid Nabi Muhammad SAW secara berjamaah. Seusai asupan spiritual tersebut, forum langsung masuk ke pembahasan inti, yaitu fenomena mahasiswa yang mengambil banyak peran sekaligus hingga terjebak dalam apa yang disebut “Jebakan Aman”.
Burnout Tak Selalu Soal Beban Kerja
Dalam pemaparannya, menyebutkan bahwa tekanan mental di ruang organisasi tidak selalu bersumber dari beban kerja fisik. Menurutnya, kelelahan (burnout) kerap dipicu oleh tiga hal:
- Sistem organisasi yang kurang rapi
- Prosedur birokrasi yang terlalu panjang; dan
- Arahan pimpinan yang membingungkan bagi para pengurus (confusion of direction).
Bahaya Membandingkan Diri dan Hilangnya Jati Diri
Kajian ini juga menyoroti dampak destruktif dari kelelahan mental yang tidak dikelola. Mahasiswa yang kehabisan energi perlahan dapat kehilangan jati diri karena hanya hidup untuk memenuhi ekspektasi lingkungan.
Kondisi tersebut diperparah oleh kebiasaan membandingkan diri (sosial comparison). Munculnya pertanyaan seperti “Kenapa ya saya sibuk banget, sementara teman-teman lain bisa santai?”, atau perasaan bekerja sendirian meski berada di dalam tim, merupakan sinyal bahaya. Tanda-tanda itu menunjukkan bahwa organisasi tidak lagi menjadi ruang bertumbuh yang sehat.
Kesehatan mental aktivis kampus bukan semata urusan pribadi, melainkan tanggung jawab bersama antara individu dan sistem kepengurusan organisasi. Prinsipnya: “Tidak harus selalu kuat. Healing tanpa hilang.”
“Healing Tanpa Hilang”: Lima Langkah Sederhana
Untuk membentengi diri dari tekanan tersebut, pemateri menegaskan prinsip “Tidak harus selalu kuat. Healing tanpa hilang.” Mahasiswa diajak jujur mengakui rasa lelah tanpa harus lepas dari tanggung jawab, serta berani meminta tolong ketika kapasitas diri telah mencapai batas.
Pemateri merumuskan lima langkah sederhana menjaga kesehatan mental sebagai berikut:
| No. | Langkah | Penjelasan |
| 1 | Kenali Diri Sendiri | Memahami limitasi dan potensi, baik melalui evaluasi pribadi maupun pandangan orang lain. |
| 2 | Komunikasi Terbuka | Berani mengomunikasikan hambatan tanpa rasa takut dihakimi. |
| 3 | Mencari Mentor | Memiliki sosok pembimbing untuk memberikan perspektif yang objektif. |
| 4 | Manajemen Waktu | Mengatur skala prioritas antara akademik, istirahat, dan organisasi. |
| 5 | Melihat Kembali | Rutin melakukan refleksi atas pencapaian-pencapaian kecil yang telah dilalui. |
Pemeliharaan kesehatan mental, tegas pemateri, bukan hanya tugas individu, melainkan juga tanggung jawab sistem kepengurusan. Pimpinan organisasi dituntut peka, dengan rutin menanyakan kabar anggota, memvalidasi emosi mereka, memberikan apresiasi atas setiap proses, serta memastikan adanya kepastian arahan kerja.
Kajian TAMMARA kali ini meninggalkan ruang refleksi yang mendalam bagi seluruh kader. “Tidak masalah kalau kamu gagal, lantangkanlah suara hatimu. Di balik kekalahanlah muncul bibit-bibit pemenang,” pesan Nailul Izzata Gufron.
Melalui pemahaman yang komprehensif ini, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta diharapkan mampu menyeimbangkan ambisi akademik dan organisasi dengan kewarasan mental, sehingga dapat terus berproses secara sehat selaras dengan semangat “Damai Bersama Al-Qur’an.”
