Skip to main content

Ciputat Timur, 06 November 2025 – Ta’lim malam berkah kali ini menghadirkan Muhammad Ramdan Erico (President Director of Hanoon Tours and Travel Mutowif) sebagai pemateri. Dengan mengusung tema “Ekstase Cinta dan Rindu (Mahabbah) dalam Kitab Tanwīrul Qulūb fī Mu‘āmalati ‘Ālami al-Ghuyūb karya Syekh Muhammad Amin Al-Qurdi” kajian ini mengupas konsep mahabbah sebagai puncak perjalanan spiritual seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa dalam perspektif tasawuf, mahabbah tidak sekadar dimaknai sebagai perasaan emosional, melainkan kondisi batin yang lahir dari kesadaran iman, ketaatan, serta kedekatan ruhani yang mendalam kepada Sang Pencipta. Mahabbah menjadi buah dari proses panjang penghambaan yang dijalani secara konsisten dan penuh keikhlasan.

Merujuk pada kitab Tanwīrul Qulūb, Syekh Muhammad Amin al-Qurdi menjelaskan bahwa mahabbah tumbuh melalui penyucian hati (tazkiyatun nafs), pengendalian hawa nafsu, serta ketekunan dalam ibadah dan zikir. Ketika hati terbebas dari ketergantungan berlebihan terhadap dunia, orientasi hidup seorang hamba akan sepenuhnya tertuju pada ridha Allah Swt. Pada tahap ini, ibadah tidak lagi dirasakan sebagai beban, melainkan menjadi kebutuhan dan kenikmatan ruhani.

Kajian ini juga membahas konsep rindu (syauq) sebagai konsekuensi dari mahabbah. Rindu kepada Allah Swt. mendorong seorang hamba untuk senantiasa mendekat, bermunajat, dan menjaga hubungan spiritual dengan-Nya. Rasa rindu tersebut dapat melahirkan kondisi ekstase spiritual, yakni keadaan batin yang dipenuhi ketenangan, kebahagiaan, dan kesadaran akan kehadiran Ilahi, meskipun secara lahiriah seseorang tetap menjalani kehidupan secara normal.

Meski demikian, Tanwīrul Qulūb menegaskan bahwa pengalaman mahabbah dan ekstase spiritual harus tetap berada dalam koridor syariat. Syekh Muhammad Amin al-Qurdi mengingatkan agar seorang salik tidak terjebak pada klaim spiritual yang berlebihan atau mengabaikan kewajiban agama. Mahabbah sejati justru tercermin dari semakin kuatnya ketaatan, akhlak yang mulia, serta sikap tawadhu di hadapan Allah Swt. dan sesama manusia.

Melalui kajian ini, peserta diajak untuk memahami bahwa mahabbah bukan sekadar konsep tasawuf yang abstrak, melainkan nilai spiritual yang dapat diupayakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menjaga keikhlasan, memperbanyak zikir, serta menata niat dalam setiap amal, seorang muslim dapat menumbuhkan cinta dan rindu kepada Allah Swt. secara seimbang antara kedalaman spiritual dan ketaatan syariat.

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses