
Sumber: https://bincangenergi.id/
Sampah plastik menjadi masalah besar di Indonesia. Data terbaru menunjukkan timbulan sampah nasional mencapai jutaan ton, dan hampir 20% di antaranya adalah plastik yang sulit terurai. Banyak yang berakhir di sungai, pesisir, dan laut, menjadikan Indonesia salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Masalah ini bukan hanya teknis, tapi juga soal kesadaran kita terhadap lingkungan.
Dalam perspektif Islam, menjaga bumi bukan sekadar kebutuhan fisik, tapi tanggung jawab spiritual. Allah Swt. berfirman:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ
“Dan Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah (2):30)
Manusia diangkat sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi, menjaga keseimbangan, dan menghindari kerusakan. Larangan berbuat kerusakan ditegaskan dalam Al-Qur’an:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki.” (QS. Al-A’raf (07):56)
Kerusakan lingkungan akibat tindakan manusia seperti penebangan hutan liar, pembuangan sampah sembarangan, dan pencemaran air merupakan bentuk fasad yang harus dihindari.
Di tengah kemajuan teknologi, muncul peluang baru untuk meningkatkan kesadaran ekologis. NURcycle hadir sebagai inovasi digital yang menggabungkan daur ulang botol plastik dengan nilai-nilai Qur’ani. Sistem ini memadukan aplikasi mobile dengan Reverse Vending Machine (RVM) yang menerima botol plastik, memberi poin, dan menghubungkan pengguna dengan fitur edukasi Qur’ani.
Konsep NURCycle sederhana. “Nur” berarti cahaya kesadaran, dan “Cycle” adalah proses daur ulang. Setiap botol yang dikumpulkan menjadi kesempatan untuk belajar tentang tanggung jawab sebagai khalifah. Melalui aplikasi, pengguna bisa melacak progresnya, menukar poin dengan reward, dan membaca refleksi Qur’ani tentang menjaga bumi.
NURCycle membuktikan bahwa teknologi dan nilai agama bisa bersatu membentuk perilaku positif. Tidak hanya daur ulang, tapi juga menanamkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Langkah kecil seperti membuang sampah di tempatnya, menekan tombol RVM, atau memilih bahan ramah lingkungan juga menjadi bentuk nyata dari tanggung jawab spiritual.
Dengan inovasi ini, kampus, pemerintah, dan masyarakat bisa lebih mudah menumbuhkan budaya ekologis. Teknologi menjadi sarana edukasi, nilai Qur’ani membimbing tindakan, dan kesadaran lingkungan menjadi bagian dari kehidupan yang bermakna.
Daftar Pustaka
Badulloh, Irsyad, dan Rizal Samsul Mutaqin. (2022). Islamic Eco-Theological as Local Wisdom for the Preservation of Natural Environment. Islam Transformatif: Journal of Islamic Studies, 6(2), 145–160.
Iqbal, Muhammad. (2023). Ekoteologi Islam: Mengintegrasikan Nilai-Nilai Fatwa MUI No. 86 Tahun 2023 ke dalam Pola Hidup Berkelanjutan. Jurnal Ilmu Syariah dan Hukum, 1(2), 45–58.
Nauval, M. Mirza Azizin. (2024). Ekoteologi Islam dalam Praktik: Kajian Fatwa MUI No. 86 Tahun 2023 dan Sikap Masyarakat. Jurnal Studi Islam Kontemporer, 5(1), 77–89.
Tantri, Ashr Hafiizh, Adil Amrullah Firdaus, dan Dinda Franciska Mey Dina. (2025). Pengembangan Aplikasi Penjualan Sampah Daur Ulang Berbasis Mobile. Jurnal Teknik Informatika dan Sistem Informasi, 12(1), 357–368.
Bisnis.com. (2025). Langkah Serius Pemerintah Atasi Krisis Sampah Plastik. https://hijau.bisnis.com/read/20250527/651/1880472/langkah-serius-pemerintah-atasi-masalah-krisis-sampah-plastik (diakses 20 November 2025).
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2025). SIPSN: Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional. https://sipsn.menlhk.go.id/sipsn/public (diakses 20 November 2025).
The World Bank. (2021). Plastic Waste Discharges from Rivers and Coastlines in Indonesia. East Asia and Pacific Marine Plastics Series, May. Washington, DC: WorldBank. https://documents1.worldbank.org/curated/en/146261621356766241/pdf/Plastic-Waste-Discharges-from-Rivers-and-Coastlines-in-Indonesia.pdf (diakses 20 November 2025).