Skip to main content
Gambar: Kota Ribath, Tarim – Yaman

Sumber: https://images.app.goo.gl/XBzK1LsczX2BLsRw7

“Tidak ada tempat di dunia ini yang lebih baik dari Tarim setelah al masajid ats tsalatsah (Makkah, Madinah, dan Aqsha)” – Al Imam Al Qutb Abdullah Bin Alwi Al Haddad

Tarim adalah kota bersejarah yang terletak di wilayah Hadramaut, Yaman, sekitar 640 kilometer dari ibu kota San’a. Kota ini dikenal luas sebagai pusat spiritualitas dan keilmuan, serta mendapat julukan “Kota Seribu Wali” karena banyaknya ulama dan tokoh sufi besar yang berasal dari sana.

Dibandingkan dengan kota-kota lain di Yaman, Tarim menonjol dalam hal religiusitas dan warisan keilmuannya. Bahkan, terdapat kisah yang menyebutkan bahwa kesalehan penduduk Tarim melebihi para malaikat dalam ketaatan mereka terhadap ajaran Islam. Tak heran jika Tarim sering dianggap sebagai salah satu kota tersuci setelah Makkah, Madinah, dan Al-Aqsha.

Keutamaan masyarakat Yaman sendiri telah disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW, yang mengatakan bahwa hati mereka lembut dan penuh kasih sayang, serta bahwa iman dan kebijaksanaan berasal dari mereka. Pernyataan ini menggambarkan karakter penduduk Yaman secara umum, yang tercermin jelas dalam kehidupan masyarakat Tarim.

Asal-usul nama Tarim masih menjadi perdebatan. Sebagian menyebut nama tersebut berasal dari Raja Tarim bin Hadramaut bin Saba’ Al-Ashghar, sementara sumber lain mengaitkannya dengan Sa’ad Al-Kamil sebagai pendiri kota. Yang jelas, hingga kini, berbagai peninggalan bersejarah dari masa kejayaan Islam masih bisa ditemukan di kota ini, mulai dari masjid kuno, madrasah tradisional, makam para wali, hingga jejak para sahabat Nabi. Bahkan, tidak jauh dari kota ini terdapat makam empat nabi: Nabi Hud, Nabi Saleh, Nabi Hadun, dan Nabi Handhalah.

Selain itu, sekitar 70 sahabat Nabi yang gugur saat membantu Abu Bakar Ash-Shiddiq menumpas pemberontakan juga dimakamkan di pemakaman Zambal, yang terletak di pusat kota. Atas peran besarnya dalam penyebaran Islam, pada tahun 2010 Tarim dianugerahi gelar “Pusat Kebudayaan Islam Dunia” oleh ISESCO.

Keistimewaan Tarim tak hanya terletak pada aspek sejarah dan spiritualitasnya, tetapi juga pada kondisi geografisnya yang unik. Meskipun berada di wilayah gurun yang gersang, Tarim justru dikenal sebagai kota yang subur dan makmur, sehingga dijuluki al-Ghanna, yang berarti hijau dan kaya.

Kontras ini terlihat jelas melalui keberadaan pohon-pohon dan aliran air di berbagai sudut kota. Julukan lain, Madina Ash-Shiddiq, muncul dari kisah bersejarah ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq menerima baiat dari Ziyad bin Lubaid Al-Anshari, pemimpin Tarim saat itu. Peristiwa tersebut menandai awal mula ikatan spiritual antara kota ini dengan nilai-nilai Islam.

Lebih dari itu, Tarim memiliki tiga bentuk keberkahan utama: masjid-masjidnya, tanahnya yang diberkahi, serta pegunungan di sekitarnya. Kota ini merupakan tempat tinggal bagi para keturunan Rasulullah SAW, yang dikenal sebagai alawiyyin, dan juga menjadi pusat penyebaran Mazhab Syafi’i. Tokoh-tokoh Islam berpengaruh seperti Habib Umar bin Hafidz dan Habib Ali al-Jufri lahir dan menimba ilmu di kota ini, memperkuat posisi Tarim sebagai pusat spiritual Islam.

Salah satu hal yang paling mencolok dari Tarim adalah jumlah masjidnya yang sangat banyak, mencapai sekitar 360 buah, jumlah yang merepresentasikan hari dalam setahun. Meski dibangun dari bahan-bahan sederhana seperti tanah liat dan rumput kering, masjid-masjid ini tetap berdiri kokoh hingga ratusan tahun lamanya. Salah satu yang paling dikenal adalah Masjid Al-Muhdhar, yang memiliki menara tinggi dan menjadi ikon kota.

Di samping itu, Tarim juga dikenal sebagai pusat pendidikan Islam yang dihormati. Para pencari ilmu dari berbagai penjuru dunia datang untuk mempelajari berbagai cabang keilmuan Islam seperti fikih, tauhid, dan nahwu. Tak heran jika Imam Abdurrahman Assegaf mengatakan bahwa setetes ilmu di Tarim lebih berharga daripada lautan ilmu di tempat lain.

Tarim juga menjadi destinasi ziarah bagi mereka yang ingin memperoleh keberkahan spiritual. Banyak yang meyakini bahwa berkunjung ke kota ini membawa pahala dan manfaat besar. Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad bahkan menyatakan bahwa jika seseorang menghabiskan seluruh hartanya untuk berziarah ke Tarim, balasan yang diterimanya akan jauh lebih besar daripada apa yang ia korbankan.

Kehidupan masyarakat Tarim juga tidak lepas dari nilai-nilai agama yang kuat, termasuk dalam peran perempuan. Wanita di Tarim tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan kajian keislaman, pembacaan maulid, dan kebiasaan membaca Al-Qur’an sejak dini. Mereka sangat menjaga akhlak, aurat, dan batas-batas pergaulan. Setelah baligh, perempuan umumnya tetap tinggal di rumah dan tidak berinteraksi dengan pria non-mahram. Perjodohan dilakukan oleh wali tanpa melalui proses pacaran, dan pernikahan biasa terjadi pada usia muda.

Dalam rumah tangga, perempuan Tarim dikenal penuh kasih, tidak membebani suami, dan menjaga rumah tangga dengan penuh kelembutan. Mereka memperhatikan penampilan, merapikan rumah, dan menjaga aroma pakaian suami. Bahkan jika terjadi perselisihan kecil, mereka menyelesaikannya dengan cara lembut, terkadang lewat tulisan yang berakhir dengan tawa dan kedamaian. Kehormatan diri juga dijaga ketat melalui penggunaan niqab dan pembatasan keluar rumah tanpa pendamping. Keteguhan dan kesucian ini membuat perempuan Tarim dijuluki “bidadari bumi.”

Aktivitas sosial di Tarim pun mencerminkan kuatnya nilai spiritual. Di pasar, laki-laki yang berdagang mengisi waktu luang dengan membaca Al-Qur’an dan bershalawat. Disebutkan bahwa lebih dari 200 wali Allah pernah berada di pasar Tarim, menandakan tingginya spiritualitas masyarakat setempat. Saat adzan berkumandang, seluruh aktivitas berhenti, dan penduduk bergegas menuju masjid untuk shalat berjamaah. Suasana damai dan tenang yang terpancar dari kota ini begitu kuat, hingga banyak pendatang merasa enggan kembali pulang. Seperti yang pernah disampaikan oleh Imam Ahmad bin Abil Hubb, “Jika orang-orang menyaksikan hakikat Tarim, mereka akan menyebutnya sebagai surga dunia.”

Sebagai pelengkap dari kekayaan spiritual dan keilmuannya, Tarim juga memiliki sejumlah lembaga pendidikan Islam terkemuka. Di antaranya adalah Rubath Tarim, Dar al-Musthafa, Dar az-Zahra, dan Universitas Al-Ahgaff. Lembaga-lembaga ini menjadi tempat berkumpulnya para pelajar dari seluruh dunia yang ingin merasakan langsung kehangatan ilmu dan keberkahan dari kota yang dijuluki sebagai jantung spiritual dunia Islam ini.

Referensi:

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tarim

https://www.fiqhislam.com/agenda/sejarah-islam-dunia/129553-keistimewaan-tarim-hadramaut-kota-seribu-wali-yang-diberkahi

https://kalam.sindonews.com/newsread/944501/786/sejarah-tarim-yaman-kota-seribu-wali-penghasil-ulama-dan-keturunan-nabi-muhammad-1668701517

https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-6914542/tarim-kota-seribu-wali-yang-simpan-sejarah-dan-keistimewaan.

https://muslimahdaily.com/khazanah/art-culture/item/5899-3-keistimewaan-kota-mungil-tarim-yang-amat-diberkati-di-muka-bumi.html\

https://123dok.com/article/pendidikan-di-kota-tarim-tarim-profil-kota-ulama.6qm8w0wz

https://dreamsoftareem.wordpress.com/2014/12/19/kota-tarim-hadramaut-adalah-salah-satu-kota-dunia-surga/

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses