Skip to main content

Gambar siluet orang merenung saat matahari terbenam. Sumber: https://images.app.goo.gl/4UL6rxhFNdt8Pkuu6

Di antara para tokoh sufi yang namanya harum dalam sejarah Islam, Syekh Ibrahim bin Adham adalah salah satu yang paling dikenang karena kezuhudan dan ketulusan hidupnya. Ia adalah seorang bangsawan dari Balkh yang kini menjadi wilayah Afghanistan. Beliau memilih meninggalkan istana demi mencari ketenangan hati dengan cara mendekat kepada Allah swt. Perjalanannya dari seorang raja menjadi pengembara ruhani menjadikannya simbol tentang arti zuhud yang sejati. Bukan sekadar hidup miskin, tapi memilih untuk tidak diperbudak dunia.

Banyak ulama dan kitab tasawuf klasik yang mengutip nasihat-nasihat Syekh Ibrahim bin Adham. Salah satunya yang paling terkenal adalah empat wasiat yang ia sampaikan kepada seorang lelaki, sebagaimana tercatat dalam Tahdzibul Al-Asrar, karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani:

وَقَالَ رَجل لإبراهيم بن أدهم: أوصني، فَقَالَ:   وَقَالَ رَجل لإبراهيم بن أدهماترك الحسّد تنج من الغَم، وَدَع اللذة تنجُ مِنَ الإثْمِ، وَلا تحب ألطاف الناس كيلا تبعد عَنِ الله عزّ وجلَّ، وَاذْكُر هَادِمَ اللَّذَاتِ تسلم من شغل الدنيا 

 “Dan berkata seseorang lelaki kepada Ibrahim bin Adham, berwasiatlah kepadaku! Maka Ibrahim bin Adham berkata, tinggalkan hasad niscaya kamu akan selamat dari kegelisahan, dan tinggalkan kelezatan maksiat niscaya kamu akan selamat dari dosa, dan janganlah kamu suka terhadap pujian manusia agar kamu tidak jauh dari Allah, serta ingatlah kematian niscaya kamu akan selamat dari sibuknya dunia”. 

Wasiat dari Syekh Ibrahim bin Adham ini bukan hanya sekadar nasihat biasa, tapi memandu kita supaya hidup lebih terarah dan bermuara pada ridho ilahi. Yuk, kita simak makna dari tiap wasiatnya satu per satu

1. Tinggalkan Hasad, Niscaya Selamat dari Kegelisahan

Hasad (iri hati) adalah penyakit hati yang paling tersembunyi namun mematikan. Seorang yang hasad tidak hanya menderita karena orang lain bahagia, tapi juga menghancurkan ketenangannya sendiri. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menyebutkan:

الحسد لا يضر المحسود، وإنما يضر الحاسد

“dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

Dengan meninggalkan hasad, hati menjadi lapang, dan jiwa terhindar dari beban kegelisahan yang tidak perlu.

2. Tinggalkan Kelezatan Maksiat, Niscaya Selamat dari Dosa

Maksiat seringkali membawa manusia pada kesenangan yang semu, tapi sejatinya ia adalah jebakan. Banyak orang terjebak dalam dosa karena mengutamakan kenikmatan sesaat daripada keselamatan yang hakiki. Dalam Al-Qur’an, Allah telah memberi banyak harapan sekaligus peringatan. Salah satunya yang disebut dalam QS. Az-Zumar [39]: 53

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang telah berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Syekh Ibrahim mengingatkan bahwa kelezatan yang melalaikan hanya akan menambah beban akhirat. Menahan diri dari maksiat bukan berarti kehilangan kebahagiaan, tapi menunda kepuasan demi ridha Allah Swt.

3. Jangan Mengejar Pujian Manusia, Agar Tidak Jauh dari Allah

Manusia yang terobsesi dengan pujian mudah tergelincir pada riya’ (pamer dalam ibadah). Pujian dari manusia sering kali melenakan hati. Ketika kita terlalu mengharapkan pujian, niat baik bisa berubah jadi riya’ atau maknanya amal dilakukan bukan karena Allah, tapi demi pengakuan manusia. Akibatnya, ibadah kita kehilangan keikhlasan dan justru menjauhkan diri dari ridha Allah.

Syekh Ibrahim bin Adham menasihati kita untuk tidak terjebak pada pujian orang lain agar hati tetap fokus pada Allah. Sebab, pujian manusia sifatnya sementara dan bisa membuat seseorang sombong atau lalai.

Dalam kitab Tazkiyatun Nafs, pujian berlebihan disebut sebagai penyakit hati yang bisa merusak amal baik dan melemahkan iman. Oleh karena itu, menjaga keikhlasan adalah kunci agar amal diterima dan hati tetap dekat dengan Allah.

4. Ingat Kematian, Niscaya Selamat dari Sibuknya Dunia

Kita tentu tahu bahwa hidup di dunia hanyalah sekedar persinggahan untuk mengumpulkan pundi-pundi amal solih untuk di bawa kelak menghadap Allah saat kita wafat. Maka, orang yang ingat mati tidak akan sibuk mengejar hal-hal yang fana. Ia lebih bijak dalam memilih, lebih tenang dalam menjalani, dan lebih ikhlas dalam ketetapan yang Allah kasih.

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa dzikrul maut (mengingat mati) adalah penawar bagi hati yang keras. Ia mengingatkan kita agar tidak tertipu oleh dunia, agar lebih bersiap menghadapi akhirat. Karena bagaimana mungkin seseorang bisa lalai, jika ia sadar bahwa ajal bisa datang kapan saja.

Sebagai mahasiswa, kita sering sibuk dengan tugas, organisasi, atau pencarian jati diri. Tapi di tengah kesibukan itu, nasihat Syekh Ibrahim bin Adham mengajak kita untuk menengok ke dalam.Apakah hati ini masih sehat? Apakah tujuan hidup kita masih lurus?

Empat wasiat ini sederhana tapi sangat mendalam. Jauhi iri hati, tinggalkan maksiat, jangan haus pujian, dan ingat kematian. Kalau kita bisa menjaga empat hal ini, insya Allah hidup kita jadi lebih ringan dan hati kita tetap terhubung dengan Allah swt. Semoga hati kita diberi kekuatan untuk mengamalkan nasihat-nasihat ini, agar hidup kita tidak hanya sibuk, tapi juga bermakna yaitu mengharapkan ridha Allah swt.

Daftar Pustaka

 Abdul Qadir al-Jailani, Tahdzibul Al-Asrar, Juz 9, hlm. 402

https://bincangsyariah.com/khazanah/profil-tokoh/ini-4-wasiat-hidup-sederhana-dari-syekh-ibrahim-bin-adham/  : 4 Wasiat Sufi Ibrahim bin Adham tentang Hidup Sederhana

Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, Beirut: Dar al-Fikr

https://quran.nu.or.id/al-falaq/5

https://quran.nu.or.id/az-zumar/53

Abu Nu’aim al-Ashfahani, Hilyatul Auliya’

As-Sulami, Abu Abdurrahman, Tabaqat al-Sufiyyah

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses