
Ciputat Timur, 27 Februari 2026 — Himpunan Qari dan Qariah Mahasiswa (HIQMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali menggelar kajian rutinan Ta’lim Malam Berkah (TAMMARA) dengan tema “Makna Bulan Suci Ramadhan bagi Umat Nabi Muhammad SAW.” Kajian ini menekankan bahwa Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan anugerah istimewa yang Allah SWT rancang khusus untuk umat akhir zaman sebagai jalan taubat yang penuh kasih sayang.
Kajian membuka perspektif komparatif yang menarik. Umat terdahulu, seperti umat Nabi Musa a.s. menghadapi syarat taubat yang amat berat. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 54 dikisahkan, mereka yang terjerumus menyembah patung anak sapi harus membunuh diri sendiri sebagai tebusan dosa. Sementara umat Nabi Muhammad Saw cukup menjalani puasa Ramadhan dengan tulus ikhlas, dan Allah menjanjikan pengampunan total. Keistimewaan ini bahkan dikisahkan membuat Nabi Musa a.s. memohon kepada Allah agar dijadikan bagian dari umat akhir zaman.
Ramadhan juga disebut sebagai bulan yang mengubah sejarah. Tiga peristiwa monumental tercatat terjadi di bulan ini: Nuzulul Qur’an pada 17 Ramadhan sebagai titik awal transformasi peradaban, Perang Badar pada 17 Ramadhan 2 H di mana 313 pejuang Muslim dalam kondisi berpuasa berhasil mengalahkan ribuan pasukan Quraisy, serta Fathu Makkah pada 20 Ramadhan 8 H yang menjadi puncak kemenangan Islam tanpa pertumpahan darah berarti. Fakta-fakta ini, menurut pemateri, membuktikan bahwa Ramadhan adalah bulan kekuatan, bukan bulan kemalasan.
Keistimewaan Ramadhan dipuncaki dengan hadirnya Lailatul Qadr, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan atau setara sekitar 83 tahun ibadah. Pemateri menyoroti hikmah besar di balik ini: umat Nabi Muhammad yang rata-rata berumur 60–70 tahun diberi peluang untuk melampaui pahala ibadah umat-umat terdahulu yang berumur ratusan tahun, hanya melalui satu malam penuh kesungguhan.
Secara teologis, kajian menjelaskan bahwa Ramadhan dirancang sebagai tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa dari dosa-dosa setahun terakhir. Dimensi sosialnya pun tak kalah penting: rasa lapar yang dirasakan selama puasa menumbuhkan empati terhadap kaum dhuafa. Rasulullah Saw bersabda, barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan ihtisab benar-benar mengharap ridha Allah, bukan sekadar ikut-ikutan maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni (HR. Bukhari & Muslim).
Mengakhiri kajian, pemateri mengajak peserta meneladani para ulama salaf dalam menghidupkan Ramadhan. Imam Syafi’i dikenal mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali sepanjang bulan ini karena Ramadhan adalah bulannya Al-Qur’an. Rasulullah Saw pun digambarkan dalam hadis bagaikan angin yang berhembus dalam hal kedermawanan di bulan Ramadhan cepat, menyeluruh, dan tanpa batas. Semangat i’tikaf dan meminimalkan percakapan yang tidak bermanfaat di sepuluh malam terakhir juga menjadi tradisi yang dianjurkan untuk dihidupkan kembali.
Ramadhan, demikian pesan penutup kajian, adalah bukti nyata cinta Allah kepada umat Nabi Muhammad Saw. Umat yang diberi umur pendek, namun dilimpahi bonus pahala yang melampaui usia itu sendiri.
