
Ciputat Timur, 05 September 2025 – Kajian Umum yang diselenggarakan pada Kamis, 24 Juli 2025 cukup berbeda dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya, HIQMA UIN Jakarta berkolaborasi dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) internal kampus dalam penyelenggaraan kajian rutin malam Jumat. Dengan tema “Berdialog dengan Alam = Berdialog dengan Tuhan”, kajian ini menghadirkan Nur Muhammad Fadhil (Ketua Umum KPA Arkadia) dan Wildan Miftahudin (Ketua Umum HIQMA) yang mengupas hakikat alam sebagai sahabat manusia sekaligus amanah dari Allah Swt., yang harus dijaga.
Mengawali kajian, kedua narasumber menegaskan bahwa seluruh ciptaan Allah, baik langit, bumi, maupun segala isinya, senantiasa bertasbih sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 44. Sayangnya, manusia sering kali gagal memahami bahasa zikir alam tersebut. Kisah dalam hadis tentang pohon kurma yang menangis saat Rasulullah saw. tidak lagi bersandar padanya juga diangkat sebagai bukti nyata bahwa alam memiliki perasaan dan cara untuk berkomunikasi.
Dalam pembahasanya, Fadhil mengaitkan ajaran Islam dengan etika lingkungan modern. Salah satunya merujuk pada pemikiran Christopher D. Stone melalui tulisannya “Should Trees Have Standing?” (1972) yang menekankan perlunya memberi hak bagi pohon, hewan, sungai, dan bahkan batu untuk mempertahankan eksistensinya. Hal ini sejalan dengan konsep ekoteologi Islam yang menempatkan manusia bukan sebagai pemilik bumi, melainkan sebagai khalifah yang wajib menjaga keseimbangan dan kelestarian alam sebagai bentuk ibadah.
Wildan meneruskan bahwa kerusakan alam merupakan akibat ulah manusia, sebagaimana peringatan Allah dalam QS. Ar-Rum ayat 41. Alam sendiri tidak pernah jahat, bahkan selalu memberi tanda sebelum bencana datang—seperti air laut yang surut sebelum tsunami, atau burung-burung yang terbang sebelum kebakaran meluas. Dari sini kitab isa mengambil tiga pesan penting, yaitu alam selalu memberi peringatan sebelum murka, kerusakan terjadi akibat keserakahan manusia, dan menjaga alam berarti menjaga ibadah kepada Allah.
Dalam sesi penutup, Wildan dan Fadhil mengajak seluruh peserta untuk merenungi sebuah pesan. “Batasan adalah bentuk kasih sayang Allah. Dengan membatasi kepemilikan dan nafsu, manusia akan menemukan kebahagiaan sejati”. Kedua narasumber juga mengingatkan agar umat Islam senantiasa mempelajari dan membaca bahasa halus alam, bersahabat dengannya, serta menjaga kelestarian bumi sebagai amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.