
Di era digital seperti sekarang, media sosial sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap orang menghabiskan waktunya untuk membuka Instagram, TikTok, X, atau platform lainnya. Melalui media sosial, seseorang dapat mengetahui berbagai informasi, tren terbaru, hingga aktivitas orang lain hanya dalam hitungan detik. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul sebuah fenomena yang semakin banyak dialami oleh masyarakat, khususnya generasi muda, yaitu Fear of Missing Out atau FOMO.
Fear of Missing Out adalah kondisi ketika seseorang merasa takut tertinggal informasi, tren, atau pengalaman yang sedang dialami orang lain. Perasaan ini membuat seseorang terus menerus memeriksa media sosial agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan tekanan mental dan rasa tidak puas terhadap kehidupan sendiri.
Fenomena FOMO muncul karena media sosial sering kali menampilkan kehidupan yang terlihat sempurna. Banyak orang hanya memperlihatkan sisi terbaik hidup mereka, seperti liburan mewah, pencapaian karier, gaya hidup modern, atau hubungan yang terlihat bahagia. Akibatnya, orang yang melihat konten tersebut mulai membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain. Mereka merasa hidupnya kurang menarik, kurang sukses, bahkan merasa tertinggal.
Tidak sedikit orang yang akhirnya memaksakan diri mengikuti tren hanya demi mendapatkan pengakuan sosial. Ada yang membeli barang demi terlihat “keren”, mengikuti gaya hidup tertentu, atau terus aktif di media sosial agar tidak merasa tersisih dari lingkungan pertemanan. Jika berlangsung terus menerus, kondisi ini dapat memicu kecemasan, stres, gangguan tidur, hingga menurunkan rasa percaya diri.
Dalam perspektif psikologi Islam, FOMO bukan hanya masalah sosial, tetapi juga berkaitan dengan kondisi spiritual seseorang. Islam memandang bahwa rasa gelisah dan iri hati muncul ketika manusia terlalu fokus pada kehidupan orang lain dan lupa mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah Swt. Padahal setiap manusia memiliki jalan hidup, rezeki, dan takdir yang berbeda-beda.
Allah Swt, berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 32:

Artinya: “Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain”
Ayat tersebut mengajarkan bahwa manusia tidak boleh iri terhadap kelebihan yang dimiliki orang lain. Setiap orang memiliki bagian rezeki dan kehidupan masing-masing sesuai ketetapan Allah Swt. Karena itu, membandingkan diri secara berlebihan hanya akan membuat hati semakin tidak tenang.
Islam menawarkan solusi untuk menghadapi FOMO melalui nilai-nilai spiritual yang mampu menenangkan jiwa. Salah satu konsep penting dalam Islam adalah Qana’ah, yaitu sikap merasa cukup dan bersyukur atas apa yang dimiliki. Orang yang memiliki sifat qana’ah tidak mudah iri terhadap kehidupan orang lain karena ia memahami bahwa kebahagiaan bukan diukur dari banyaknya harta atau popularitas, tetapi dari ketenangan hati.
Selain qana’ah, Islam juga mengajarkan Tawakal, yaitu berserah diri kepada Allah setelah melakukan usaha terbaik. Sikap tawakal membantu seseorang menerima hasil hidup dengan lebih ikhlas dan tidak mudah stres ketika melihat keberhasilan orang lain di media sosial.
Dzikir, salat, dan membaca Al-Qur’an juga menjadi cara penting untuk menjaga kesehatan mental. Dengan mengingat Allah Swt, hati seseorang akan menjadi lebih tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial di dunia digital. Allah SWT berfirman:

Artinya, hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenteram. Hal ini menunjukkan bahwa ketenangan sejati tidak berasal dari validasi manusia, melainkan dari kedekatan kepada Allah Swt.
Selain memperkuat spiritualitas, masyarakat juga perlu memiliki literasi digital yang baik. Pengguna media sosial harus memahami bahwa tidak semua yang ditampilkan di internet adalah kenyataan sepenuhnya. Banyak konten dibuat hanya untuk membangun citra tertentu sehingga tidak layak dijadikan standar kehidupan.
Pada akhirnya, FOMO merupakan tantangan nyata di era digital yang dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk menggunakan media sosial secara bijak, memperkuat keimanan, serta menanamkan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari. Dengan keseimbangan antara kesadaran digital dan spiritualitas Islam, seseorang akan mampu menjalani hidup dengan lebih tenang, sehat, dan bahagia tanpa harus terus menerus membandingkan diri dengan orang lain.