Skip to main content

Gambar 1. Istana Alhambra, Granada, Spanyol (Foto : Researchgate)

Ketika hujan deras memberikan keberkahan yang sebesar-besarnya

Oh saat perjumpaan kita penuh kenangan di Andalusia 

Engkau merabaku seperti di mimpi

Atau diam-diam terjadi di dunia nyata

Kejayaan yang disayangkan harus segera berlalu

Berlalu dalam sekejap mata

Bagai mengarahkan panah lalu menembaknya

Maka hatiku adalah rampasan sang pemangsa

Saat ini syair tersebut cukup populer dijadikan konten di media sosial berupa video lagu pendek atau pun dibawakan dalam konser bertema musik Arab. Syair yang diiringi dengan melodi puitis tersebut seakan membawa nuansa tersendiri bagi para pendengarnya. Namun dibalik populernya karya ini, terdapat makna elegistis yang seharusnya menjadi bahan renungan hari ini.

Syair Andalusia

Bait-bait di atas merupakan cuplikan dari sebuah muwashah—teks sastra puitis—karangan penyair asal Andalusia, Ibnu Al-Khatib. Judul aslinya Jaddakal Ghayth (جدك الغيث), tetapi dalam versi lain memiliki judul Watarumma (وطرما). Syair ini bukan shalawat, melainkan ungkapan kerinduan dan keprihatinan sang penyair akan nasib tanah airnya.

Ibnu Al-Khatib adalah seorang polimath (pakar multibidang) yang lahir dari bumi yang sama dengan intelektualis tersohor semisal Ibnu Haytham, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd, dan lain-lain. Kepakarannya ini diperoleh dari Universitas Al-Qarawiyyin, institusi berpengaruh di dunia muslim barat.

Beragam ilmu ia kuasai, mulai dari hukum hingga sastra, bahkan seni. Ia juga telah menulis sejumlah kitab yang—meski sebagian besar telah hilang—menjadi bukti kontribusinya bagi dunia Islam.

Beliau juga telah membuat syair-syair yang bernapaskan budaya Andalusia, termasuk syair burung bulbul yang dewasa ini viral. Namun, ironisnya, salah satu syairnya yang indah ditulis ketika negerinya tersebut telah runtuh akibat pengaruh reconquista (perebutan kembali oleh bangsa Kastilia dari Spanyol Utara). Bahkan, akhir hayatnya pun tragis di pengasingan, di Kota Fez (sekarang Maroko).

Runtuhnya Peradaban Muslim Terkemuka

Gambar 2. Kekhalifahan Granada menyerah kepada Kerajaan Aragon dan Kastilia (Foto: Fachri Syauqi. “Lisanuddin Ibnu Al-Khatib, Penyair Romansa di Kota Granada”. Artikel pada situs web tilas.id)

Andalusia hanya merupakan satu contoh sejarah yang pernah menampilkan siklus berulang. Sebagaimana pepatah Arab,”setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya”. Pada awal kelahirannya, Negeri Andalusia di bawah kekuasaan muslim yang tadinya sejumlah kerajaan yang berpecah-belah menjelma menjadi pusat kekuatan baru terkemuka di Eropa.

Sejarah mencatat bahwa pada masa keemasan Islam, Al-Andalus melahirkan tokoh-tokoh penting di dunia filsafat, budaya, hingga sains. Teknologi yang telah tercipta kala itu merupakan salah satu pioner barang modern sehari-hari. Bahkan, arsitekturnya yang diserap dari kebudayaan Eropa, Arab, dan Persia menghasilkan kota yang indah, tertata, dan masyarakatnya harmonis.

Namun, konflik kekuasaan telah melumpuhkan peradaban yang digdaya. Di balik glamour-nya negara muslim itu, ada krisis ekonomi dan isu pewarisan tahta yang kerap menyerang. Hal ini berimbas pada pecahnya Kekhalifahan Cordoba (nama kerajaan di Al-Andalus) menjadi kerajaan-kerajaan kecil (taifa) yang justru memperlemah kekuatan umat Islam di sana. Mirisnya, salah satu kerajaan kecil malah meminta bantuan “musuh” demi menggulingkan kerajaan lain.

Sehingga, pada tahun 1492, abad yang sama dengan penaklukan Konstantinopel di Turkiye, daulat terakhir di Al-Andalus jatuh ke tangan kekuatan nonmuslim. Kombinasi krisis dalam negeri dan ancaman luas negeri mampu menumbangkan negeri yang katanya sangat digdaya. Alasan yang serupa bisa didapatkan jika kita bertanya mengapa negara sekaliber Daulah Umayyah, Abbasiyah, hingga Ottoman, atau Kedatuan Sriwijaya hingga Kesultanan Mataram bisa runtuh padahal reputasinya kuat.

Tiga Sebab Peradaban Melemah

Ibrah yang bisa kita ambil adalah tiga sebab yang bisa melemahkan suatu peradaban yang besar.

Pertama, redupnya semangat untuk mempertahankan keimanan. Banyak kalangan yang berpendapat bahwa masa keemasan di Al-Andalus juga diiringi dengan menurunnya aktivitas spiritual. Hal serupa juga terjadi pada peradaban lainnya, ketika kemewahan dunia mengalihkan upaya untuk mempertahankan nilai agama Islam.

Kedua, persatuan umat tidak digenggam erat. Masa-masa terakhir peradaban Islam kerap ditandai dengan konflik kekuasaan dan ashabiyah yang egosentris. Padahal ada ancaman terbuka dari umat lain yang melihat kekacauan politik negara muslim sebagai celah untuk merebut kemenangan.

Ketiga, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak sebanding dengan kebermanfaatnya untuk menjamin kehidupan manusia yang sejahtera. Bahkan produk sains juga kerap disalahgunakan demi memuaskan nafsu duniawi. Selain itu meskipun sains dan filsafat berkembang, penekanan pada ilmu akidah, penyucian jiwa, dan semangat jihad mulai luntur di kalangan para pemimpin.        

Refleksi Ujian Umat dan Bangsa

Becermin dari elegi masa lampau, saat ini kita pun tengah diuji dengan kenikmatan peradaban modern tetapi di saat yang bersamaan banyak masalah yang berkelindan atau tidak berkesudahan. Tahun ini saja, sebuah negara besar bernama Indonesia menghadapi persoalan dari berbagai dimensi, mulai dari silang , hingga puncaknya eskalasi yang memantik prahara pada akhir Agustus 2025 lalu.

Huru-hara tidaklah cukup. Pada jelang akhir tahun 2025, badai siklon raksasa menyapu sebagian wilayah di Pulau Sumatra, disusul bencana lainnya yang juga menyapa berbagai daerah. Kedatangannya yang tiba-tiba kembali menyoal kelalaian besar manusia kepulauan mengenai hubungannya dengan Tuhan dan alam.

Rasa empati dan kebijaksanaan yang tipis menjadi salah satu bentuk degradasi moral yang obatnya belum mujarab. Padahal, keduanya dibutuhkan agar setiap orang dapat lebih berhati-hati dalam berkata dan bertindak.

Kita sering menilai tingkah polah pemimpin yang berseberangan dengan realitas yang lebih membutuhkan uluran tangan dan kejujuran  mereka. Begitu pula, kurangnya sosok panutan memicu kelemahan umat dan bangsa kita yang seharusnya bersatu, khidmat, serta menaati koridor kenegaraan yang semestinya.  

Sehingga, di tengah-tengah persoalan yang kompleks, bencana hadir sebagai cara agar kita terpantik untuk mulai berbenah. Sebagian orang yang tadinya tidak acuh dengan kondisi umat tiba-tiba tergerak hatinya untuk lekas bertaubat. Walau masih ada yang hatinya belum tersentuh dengan pesan yang disampaikan oleh alam yang pura-pura membisu.

Begitu pula, orang-orang yang solidaritasnya tinggi mengambil momentum dan melantangkan seruan untuk lebih peduli dengan masyarakat. Sikap yang lebih dewasa diambil untuk menyisihkan sebagian kenikmatan duniawi agar saudara seiman dan sebangsa merasa terbantu untuk pulih.

Maka dari itu, ujian atas umat dan bangsa tercinta ini tidak bisa dihidangkan begitu saja di atas meja perdebatan. Ia harus dijadikan pengobat kesadaran bagi jiwa yang masih perlu diberi kuliah tentang  nilai kebenaran dan keseimbangan yang hakiki.

Peringatan yang Lebih Agung

            Sejatinya, kelahiran dan keruntuhan peradaban telah disampaikan melalui risalah yang lebih agung daripada sekadar syair. Risalah yang berlaku universal, berlaku sepanjang zaman, apapun peradabannya. Risalah tersebut juga mengandung banyak sekali kisah peradaban masa lalu untuk dipelajari oleh orang-orang yang berakal sehat.

Allah Swt. telah jauh hari memperingatkan kita melalui firman-Nya:


فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوٓا۟ أَخَذْنَٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

“Maka apabila mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba (sekonyong-konyong), maka ketika itu mereka  terdiam dan berputus asa.” (QS: al-An’am:44).

Ayat tersebut menggambarkan bahwa sebab peradaban umat manusia dapat runtuh bukan penderitaan, tetapi justru kemewahan yang sejadi-jadinya. Seakan-akan lupa bahwa ada malapetaka yang siap membangunkan hati yang terbuai.

Kekasih-Nya yang merupakan seorang negarawan sejati juga bersabda,

…فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

Artinya: “…Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku takutkan atas kalian. Akan tetapi, aku takut jika dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia telah dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan dunia itu akan menghancurkan kalian sebagaimana ia telah menghancurkan mereka.” (HR. Bukhari & Muslim)

Memang, sang Rasul merupakan tokoh yang revolusioner. Beliau mengubah wajah peradaban Timur Tengah dan tentunya seluruh dunia dari masyarakat yang miskin moral menuju bangsa yang beradab, dari warga yang tergila-gila dengan syair yang penuh syahwat menuju hamba yang senantiasa berzikir dan berselawat, dan dari kabilah-kabilah yang selalu berseteru menjadi umat yang pernah menikmati masa kejayaannya. Maka wajar beliau menitipkan pesan akan bahaya sesuatu yang dapat menggoyahkan umat yang dibangunnya dengan susah payah.

Pada akhirnya syair populer yang terkesan indah menyimpan pesan pahit tentang betapa mahalnya harga kejayaan peradaban yang dihapus dari peta dunia. Jika Al-Andalus dan negeri lainnya pernah tumbang karena gemerlap dunia dan kemelut panjang, bukan tidak mungkin ancaman yang mirip—dengan kemasan baru—bisa menghantui negeri kita.

Dalam nuansa elegi yang bersembunyi di bawah gempita yang palsu, muhasabah masih harus senantiasa tetap hidup untuk merawat pelajaran yang membekas dalam sanubari bangsa kita. Laksana hujan yang dapat membasahi tanah dan meneduhkan udara yang panas. Marilah tinggalkan segala tabiat yang tidak menunjukkan jiwa yang religius dan beradab, demi masa depan yang lebih baik.

Sebagai penutup, terdapat sebuah kisah populer bahwa pasca-jatuhnya Granada (kerajaan muslim terakhir di Spanyol), Raja Muhammad XII (Boabdil) meninggalkan negerinya dengan pilu. Ketika telah berada di suatu bukit, beliau sempat berhenti.

Ibunya sinis dengan perbuatan sang anak yang justru melepas amanat umat Andalusia yang lara. Beliau berkata, “jangan menangis layaknya wanita pada sesuatu yang tidak bisa engkau pertahankan sebagai laki-laki!”.

Referensi:

Siti Aisah, Suparni. Sejarah Peradaban Islam di Andalusia (Spanyol) dan Pengaruhnya di Eropa. STIA Nida El Adabi. 2022.

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses