Skip to main content

Gambar 1 Seorang pria memegang bendera di puncak bukit (foto: Olivia Brickman)

Sobat Qur’ani, setiap tahun kita selalu bersiap menyambut hari istimewa yang bersejarah. Tepat pada hari itu, puluhan tahun lalu, suatu bangsa di belahan khatulistiwa mendapatkan anugerah Allah Swt. untuk merasakan kenikmatan besar yaitu hidup merdeka.

Merdeka sering diartikan sebagai bebas dari penjajahan, bebas dari penderitaan, dan bebas dari campur tangan orang asing dalam mengatur setiap gerak-gerik rakyat pribumi. Lantas apa merdeka itu sekadar hidup bebas?

Seyogyanya kita perlu memahami bahwa Islam memiliki makna sendiri soal merdeka. Berikut pandangan Islam tentang kemerdekaan:

Istiqlal dan Al-Hurriyah, Konsep Merdeka Ala Islam

Kata Istiqlal popular di kalangan masyarakat sebagai kosakata bahasa Arab untuk “merdeka”. Memang demikian, karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pun kata ini diserap dengan arti kebebasan dan kemerdekaan.  Istiqlal juga berarti bebas dari belenggu perbudakan dan penjajahan serta bebas melakukan segala hal dengan tetap mengikuti batas syariat.

Selain itu, terdapat istilah al-hurriyah yang berasal dari kata kerja (fi’il) hurr, artinya bebas. Dalam kitab Maqasid al-Syari’ah al-Islamiyah, Ibnu Asyur memaknai al-hurriyah dalam dua hal:

Pertama, kemerdekaan atau kebebasan adalah lawan kata dari “penjajahan”.

Kedua, secara metaforis, al-hurriyah bermakna kemampuan seseorang untuk mengatur dirinya sendiri dan urusannya sesuka hatinya tanpa adanya tekanan.

Beliau juga merincikan aspek kemerdekaan dan kebebasan yang dikehendaki dalam syariat Islam, yaitu bebas untuk berkeyakinan (hurriyah al-I’tiqad), bebas berpendapat dan bersuara (hurriyah al-aqwal), bebas untuk belajar, mengajar, dan berkarya (hurriyyah al-‘ilmi wa al-ta’lim wa al-ta’lif), serta bebas untuk bekerja dan berwirausaha (hurriyah al-a’mal).

Kisah Monumental Kemerdekaan dalam Al-Qur’an dan Sirah

Memang tidak ada kata “merdeka” yang eksplisit di dalam Al-Qur’an dalam makna suatu kondisi, walaupun beda halnya dengan “merdeka” sebagai syarat sejumlah hukum Islam bagi seorang mukallif (orang yang menerima kewajiban).  Akan tetapi, Al-Qur’an menyebutkan kisah-kisah epik tentang hamba Allah yang diberi cobaan luar biasa namun akhirnya mendapatkan kebebasan yang hakiki.

Pertama, Nabi Ibrahim a.s. berjuang untuk “memerdekakan” kaumnya dari tradisi penyembahan berhala. Beliau berkeyakinan bahwa secara logis sesuatu yang disembah mustahil memiliki sifat sementara, bisu, tidak berbuat apa-apa. Sebagaimana dalam Al-Quran surah Al-An’am ayat 76 hingga 79, dengan ayat ke-79 menegaskan prinsip merdeka bertauhid yang fenomenal:

 اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۚ

“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”

Kedua, Nabi Musa a.s memerdekakan kaumnya dari penindasan raja yang kejam (Fir’aun) yang puncak perjuangannya ditandai dengan selamatnya mereka dalam menyeberangi laut. Kisah ini banyak diceritakan dalam al-Qur’an, di antaranya adalah Surah Ibrahim ayat 6:

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهِ اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ اَنْجٰىكُمْ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَسُوْمُوْنَكُمْ سُوْۤءَ الْعَذَابِ وَيُذَبِّحُوْنَ اَبْنَاۤءَكُمْ وَيَسْتَحْيُوْنَ نِسَاۤءَكُمْ ۗوَفِيْ ذٰلِكُمْ بَلَاۤءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ ࣖ

“(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari pengikut-pengikut Fir‘aun. Mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, menyembelih anak-anakmu yang laki-laki, dan membiarkan hidup (anak-anak) perempuanmu (untuk disiksa dan dilecehkan). Pada yang demikian itu terdapat suatu cobaan yang besar dari Tuhanmu.”

Ketiga, Nabi Muhammad s.a.w berhasil mengemban misi yang sangat berat di bumi ini berupa perjuangan untuk membebaskan manusia dari perilaku jahiliah. Kala itu bangsa Arab terjajah oleh disorientasi hidup, penindasan ekonomi, dan kezaliman sosial. Melalui misi ini umat yang tadinya kabilah di tengah padang pasir menjelma menjadi peradaban besar yang berpengaruh bagi dunia sampai saat ini.

Saat Haji Wada, beliau bersabda, Wahai manusia! Dengarkanlah ucapanku, aku menerangkan kepada kalian, sesungguhnya aku tidak mengetahui, barangkali aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian sesudah tahun ini di tempatku berdiri ini. 

Hai manusia! Sesungguhnya seluruh darah dan harta kalian adalah suci bagi kalian sampai kalian datang menghadap Tuhan kalian, seperti sucinya hari kalian ini, di bulan kalian ini, dan di negeri kalian ini. Sesungguhnya kelak kalian akan menghadap pada Tuhan kalian, kemudian Dia akan menanyakan kepada kalian tentang amal-amal perbuatan kalian. Bukankah telah aku sampaikan? Ya Allah, saksikanlah!”.

Perlu disyarahkan juga bahwa selain ayat-ayat di atas, dalam sejarah Islam pun terdapat kisah-kisah pembebasan maupun kondisi penderitaan umat Muslim yang datang silih berganti.

Menurut Islam, Apa Sebenarnya yang Harus Dimerdekakan?

Merdeka dalam Islam bukan hanya sebatas seremoni sejarah belaka. Justru, Islam mendorong adanya kemerdekaan rohani yang sampai saat ini masih sulit mengiringi kemerdekaan secara fisik. Maka ingatkanlah sobat-sobat Qur’ani tentang apa yang harus kita merdekakan hari ini:

Pertama, merdeka dari penghambaan kepada selain Allah. Tauhid merupakan fondasi yang sangat ditanamkan sejak awal dengan susah payah. Orang yang bertauhid tidak akan tunduk pada berhala, kekuasaan yang zalim, ataupun tradisi yang menyesatkan. Surah ali Imran ayat 173 menegaskan bahwa musuh-musuh-Nya hanya setan yang menakuti kita dengan teman-teman setianya sehingga tidak perlu ditakuti.

Maka di zaman sekarang ini, kita memang merdeka secara status, akan tetapi masih terjerat dengan syirik, takhayul, dan tipu daya setan (termasuk oleh materi duniawi). Kemerdekaan yang tidak berlandaskan tauhid menjadi bentuk perbudakan baru yang tidak kasat mata.

Kedua, merdeka dari penindasan. Allah Swt. pernah menegur umat-Nya yang enggan berjihad di jalan-Nya dan membela orang-orang lemah, yaitu pada kalam-Nya,

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاۤءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا مِنْ هٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ اَهْلُهَاۚ وَاجْعَلْ لَّنَا مِنْ لَّدُنْكَ وَلِيًّاۚ وَاجْعَلْ لَّنَا مِنْ لَّدُنْكَ نَصِيْرًا

“Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah dari (kalangan) laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berdoa, “Wahai Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu dan berilah kami penolong dari sisi-Mu.” (Surah An-Nisa’ ayat 75)

Ar-Razi, dalam Mafatih al-Ghaib, menjelaskan bahwa ayat ini merupakan penegasan Allah terhadap mereka yang enggan berperang. Perang dalam konteks saat ini adalah membantu orang-orang yang kesusahan, mengentaskan kemiskinan, membela kaum tertindas, dan semacamnya.

Ketiga, merdeka dari rayuan hawa nafsu. Hawa nafsu merupakan musuh yang jauh lebih halus namun lebih berbahaya. Bahayanya disebutkan dalam Surat Al-Jatsiyah ayat 23,

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةًۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

“Tahukah kamu (Nabi Muhammad), orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan dibiarkan sesat oleh Allah dengan pengetahuan-Nya, Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya, siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Apakah kamu (wahai manusia) tidak mengambil pelajaran?”

Penjajahan secara spiritual dan mental menjadi kasus yang dihadapi dewasa ini, ketika dua sisi mata koin yang sama: gemerlap kecanggihan era teknologi dan persoalan duniawi yang kompleks, sama-sama menjadi beban masalah bagi kita. Zaman yang canggih menjadi masalah karena menyebabkan kita menjadi terlena dan abai terhadap petunjuk kebenaran, sementara persoalan duniawi memunculkan ketidaksetaraan baik secara ekonomi, sosial, maupun hukum.

Manusia dan bangsa yang merdeka semestinya harus memanfaatkan kesempatan merdeka itu untuk bangkit membebaskan diri dari penjajahan model baru ini.

Sobat qur’ani, jika momen kemerdekaan kembali menyapa kita, maka ingatlah bahwa ia membawa pesan-pesan penting yang patut direnungkan kembali. Semoga kita segera menjemput kemerdekaan yang hakiki, hidup dari napas nilai-nilai kehidupan yang sejati.

Sumber:

Hakikat dan Makna Kemerdekaan dalam Alquran, Sebuah Refleksi   – Majelis Ulama Indonesia

https://sumsel.tribunnews.com/2024/08/15/arti-al-istiqlal-dan-al-hurriyah-kosa-kata-bahasa-arab-kemerdekaan-kebebasan-makna-dalam-alquran

https://cariustadz.id/artikel/detail/tiga-makna-merdeka-menurut-al-quran

https://tirto.id/isi-khutbah-haji-wada-rasulullah-pidato-terakhir-nabi-muhammad-gCNB

Leave a Reply

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses