
Ciputat Timur, 05 September 2025 – Setelah sebelumnya berkolaborasi dengan KPA Arkadia, HIQMA UIN Jakarta kembali berkolaborasi dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) internal kampus lainnya. Pada kajian yang digelar Kamis, 14 Agustus 2025, HIQMA berkolaborasi dengan UKM Koperasi Mahasiswa (KOPMA) dengan menghadirkan Amirul Ardy Brilian (Koordinator Bidang PSDA KOPMA) dan Wildan Miftahudin (Ketua HIQMA UIN Jakarta) sebagai pembicara.
Kajian yang mengangkat tema “Ramuan di Umur ke-80: Koperasi Desa Merah Putih, Solusi atau Ambisi” ini membedah Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 yang menargetkan terbentuknya 80 ribu Koperasi Desa Merah Putih pada 12 Juli 2025, yang bertepatan dengan Hari Koperasi Nasional. Kedua pembicara menyoroti bahwa langkah ambisius ini berangkat dari semangat mengembalikan koperasi sebagai tulang punggung ekonomi rakyat, sesuai amanah Pasal 33 UUD 1945. Sejarah mencatat, koperasi pernah berjaya melalui Koperasi Unit Desa (KUD) yang berperan besar dalam mendukung swasembada pangan tahun 1984. Namun, kejayaan itu meredup ketika intervensi politik mengikis jati diri koperasi, menjadikannya sekadar perpanjangan birokrasi, hingga akhirnya banyak KUD runtuh pada krisis moneter 1998.
Ardy menegaskan bahwa Koperasi Desa Merah Putih memiliki potensi besar untuk memperpendek rantai pasok, menekan dominasi tengkulak, membuka lapangan kerja, dan menjaga stabilitas harga. Ardy mengibaratkan rantai pasok pangan seperti aliran air. Semakin panjang jalurnya, semakin banyak kebocoran dan penurunan kualitas. Kehadiran koperasi desa diharapkan menjadi “pipa pendek” yang menghubungkan petani langsung dengan konsumen. Meski demikian, Ardy mengingatkan adanya risiko berulangnya sejarah. Jika koperasi hanya bergantung pada dana pemerintah, dikelola oleh pengurus yang loyal pada penguasa alih-alih anggota, dan berjalan tanpa musyawarah desa, maka nasibnya bisa sama seperti KUD di masa lalu: tampak menjanjikan di awal, namun rapuh pada akhirnya.
Ardy juga menyampaikan pesan dari Bapak Koperasi Indonesia, yakni Mohammad Hatta. Menurut Bung Hatta, koperasi sejati adalah lembaga yang tumbuh dari bawah, berlandaskan gotong royong, kekeluargaan, dan persatuan. Oleh karena itu, keberhasilan Koperasi Desa Merah Putih tidak cukup diukur dari jumlah 80 ribu koperasi yang terbentuk, melainkan dari sejauh mana koperasi benar-benar menjawab kebutuhan nyata masyarakat desa. Melalui pendekatan riset, keilmuan, serta partisipasi masyarakat, koperasi dapat menjadi mesin kemandirian ekonomi bangsa, bukan sekadar proyek politik yang cepat redup.